Saat itu Rena mengatakan pada
Vino bahwa aku benar-benar masih mencintainya, dia menanyakan pada Vino apakah
dia masih ada rasa sama aku dan Vino berkata dia jugga masih benar-benar masih
sayang padaku, dia ingin mengajak aku balik dengan dia. Dan sangking senangnya
Rena memeluk Vino karena dia tidak tau bagaimana cara dia berterima kasih pada
Vino. Aku benar-benar merasa bodoh,aku sudah keterlaluan sama Rena harusnya aku
mendengarkan saja penjelasan Rena di UKS waktu itu. Bodoh! Sasha bodoh! Aku
menyahut handphone ku, ku buka contact lalu kucari nama Rena di sana. Aku pun
segera menelponnya. “Halo shaA?? Ada apa? Kamu kenapa? Kamu gapapa kan?” tanya
Rena bertubi-tubi sampai aku gak sempat menjawabnya. “iya ren, aku gak papa..
aku .. aku mau minta maaf” ucapku sesenggukan karena sedang menangis. “udah
gapapa shaa.. lupain ajja.. gimana keadaan kamu?? Jujur shaa, aku kangen banget
sama kamu.. aku pngen kita maen2 kayak dulu” ucap Rena “iya renaa.. samaa..
kamu ke sini gihh..” ucapku memohon “iya shaa, bntar lagi aku kesana, jangan
nangis lagi yaa..” kata Rena. “iya Ren.. maafin aku yaa..”. Aku pun mengakhiri
panggilanku.
Seharian itu aku bercerita banyak
dengan Rena, aku menceritakan semua yang aku alami selama kita masih marahan.
Aku juga menceritakan kalau aku lagi sakit, penyakit magh ku lagi kumat parah.
“iya shaa.. kak Nessa udah cerita semua ke aku..” kali ini Rena benar-benar
menangis di hadapanku, sudah dua kali ini aku membuatnya menangis, ini
benar-benar membuatku menyesal. “jangan nangis dong Ren…” ucapkuu sambil
memeluknya. “aku gak papa kok, magh ku ajja kumat, gak begitu sakit kok… cuman
aku tiap hari harus makan bubur. Aku gak bisa makan yang keras dulu, kalau pun
keras aku harus mengunyahnya sampe lembut, biar magh ku gak susah ngolah
makanannya” ucapku lagi, berusaha menenangkan Rena. “gapapa gimana sih Shaa..
kamu itu sakit, aku bener-bener gak tega ngelihatnya” ucapnya melepaskan
pelukanku. “udah Ren, ambil air wudhu yukk, buat tenangin hati kita.. kita
sholat isya’ bareng, mungkin bikin kita lebih tenang” ucapku menenangkan Rena.
Bukannya malah tenang, tangisan Rena malah makin parah. “Lho.. Ren, ada yang
salah ya sama ucapanku? Kok kamu tambah nangis siiih? Udah dong Ren, aku ikut
nangis nih kalo liat kamu nangis” ucap ku kini dengan mata yang mulai
berkaca-kaca. “Aku salut banget sama kamu Sha, di saat kamu sakit, saat kamu
kayak gini kamu masih ngingetin aku sholat, kamu ajakin aku sholat bareng..
makasih banyak Sha.. moga jalan kamu di mudahkan sama Allah Sha.. aku sayang
banget sama kamu” jawab Rena tersenggal-senggal masih menangis dalam pelukanku.
Aku memeluknya dengan erat dan menepuk-nepuk punggungnya berusaha
menenangkannya. Setelah tangisan Rena mulai tenang, kitapun mengambil air wudhu
dan sholat berjamaah. Setelah sholat kita ke taman belakang rumah dan kita liat
bintang. Malam ini langit begitu cerah, sehingga malam itu bertaburan bintang.
Kita lenulis apa yang kita rasakan malam itu di dalam buku ‘diary tentang kelip
bintang’ kita.
“suatu saat kita harus menutup
telinga agar kemauan kita menjadi tekat bulat yang tak akan terusik oleh
siapapun. Namun, suatu saat ada kalanya juga kita harus membuka mata , telinga,
dan hati kita untuk mendengar masukan dan isi hati orang yang kita sayang.
JANGAN BIARKAN SALAH PAHAM MENGHANCURKAN SEGALANYA-sonia.dc”
*to be a continue*

0 komentar:
Posting Komentar