Sabtu, 14 September 2013

★ Part 27



Aku rasa berat badanku turun lagi. Akhir-akhir ini aku sering muntah-muntah dan pingsan lagi. “Sashaa...” ucap Tante Rosa dari balik pintu kamar. “ya Tan, masuk aja..” teriakku. “gimana? Udah enakan badannya?” ucap tante sambil membelai kepalaku. “udah kok, hehe..”  jawabku lalu lanjut mengotak-atik handphone-ku. “eh, coba deh ini tante bikin kue” gara-gara saking sibuknya aku sampai-sampai gak lihat kalau tante Rosa membawa beberapa cookies di toples kecil dan masih menggunakan celemek. Chocoloate cookies sejenis ‘good time’. Sepertinya enak, “wah, keahlian eyang bikin kue nurun ke tante nih kayaknya” ucapku sambil menggigit sepotong cookies tadi. Bletakkk.. “auch!” ucapku. Aku dan Tante Rossa saling memandang dan tertawa. “ups, kayaknya keahlian eyang belum turun nih ke tante. Hahaa.. keras banget ya? Oke tunggu ya sayang, tante bakal bikin lagi yang sedikit renyah” ucap tante sambil berlari kecil meninggalkan kamar dengan toples kecilnya. “untung baru bikin sedikit” ucapku lirih sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

ooOoo

Sudah satu jam lebih, tapi tante belum balik ke kamar. Aku membereskan handphone, buku, laptop dan apapun itu yang ada di atas ranjangku. Aku memakai sandal ruangan ‘winnie the pooh’-ku lalu menuju dapur. Aku berhenti sejenak saat melihat rak kaca yang membatasi dapur dengan ruang makan. Aku melihat 3 boneka barbie dengan kotak kaca yang di hadiahkan Vino dan Rena waktu itu. Aku menarik nafas panjang-panjang. Aku menuju telephone yang menggantung di ruang makan.

“Hallo”
“siang, bisa bicara dengan Rena”
“ini Sasha? Waduh maaf sha, Rena.nya tadi keluar sama Dimas. Om kurang tahu nih kemananya”
“oh, iya om saya Sasha. Wah sudah tadi ato baru aja nih keluarnya om?”
“mmm, yah lumayan lah. Coba deh kamu hubungin ke handphone.nya aja?”
“oke, makasih om. Maaf ganggu. Siang”

Aku menutup telepon. Sekarang aku juga sadar kalo nggak selamanya Rena selalu ada buat aku, bahkan dia juga punya kehidupan sendiri yang seharusnya aku bisa ngerti. Aku segera ke dapur dan yaampun! “Tante.. Tante.. bangun” ucapku membangunkan Tante Rosa yang sedang duduk dan menyandarkan kepalanya di meja. “Astaga tante ketiduran, hoaam” katanya sambil merentangkan tangannya ke atas kuat-kuat. Aku hanya menunjuk ke arah oven yang sudah mengeluarkan asap berbau sangit dari lubang udaranya. Tante segera mengambil kain serbet dan membuka ovennya. Dan “uhukk.. uhuk..” kita berdua terbatuk-batuk karena asap langsung memenuhi dapur. “yaaaah” ucap Tante sambil memandangi cookies.nya yang hangus dengan memasang tampang sedih *pakek banget “haha nggak papa Tante, masih ada sisa adonan. Ayo kita bikin lagi bareng2” ucapku sambil menenangkan Tante Rossa. “okee! Let’s do it!” ucap Tante dengan semangat, dia langsung membuang cookies2 hangus itu dan mencuci loyang nya. Aku mengaduk2 adonan dan segera mencetak di loyang yang sudah di siapkan. Tante membantu dengan menaruh chocochip di atas adonan yang sudah aku bentuk menjadi bulatan-bulatan pipih itu. Dan kita mencobanya sekali lagi.
ooOoo

Ting tongg.... “biar aku aja tan yang buka” ucapku pada Tante Rosa yang sedang asyik beres-beres dapur karena yang sedang kita panggang adalah adonan yang terakhir. Aku segera melepas celemek-ku dan menuju ruang tamu. Aku mengintip dari jendela, tapi sia-sia yang terlihat hanyalah dedaunan, tanaman di balik jendela sudah tumbuh tinggi jadi menutupi pandangan. Aku membuka pintu. Aku terdiam melihat seorang perempuan dan seorang laki-laki yang menenteng helm putih.nya. “Haloo Sashaa..” ucap Rena melihat ku terbengong. “Rena!!!” aku memeluknyaa.. “heeii, kenapa nihh?? kayak kemaren gak ketemu ajaah..” ucap Rena yang heran melihat tingkah laku-ku barusan. “hiihii.. bukannya apasih, tapi percaya deh! Sahabat sejati pasti peka dan kerasa apa yang kita rasain” ucapku sambil senyam senyum menarik tangan Rena dan Dimas agar segera masuk. “hah? Emang kenapa sih Sha?” tanya Rena heran. “tadi aku telpon ke rumah kamu, yang angkat Om Adi. Katanya aku suruh telepon ke handphone kamu, tapi Hp-ku di atas, akunya males ngambil hehe” jelasku panjang lebar. “ohh, kirain apaa.. iyanih Dimas nyebelin tadinya ngajaik jalan, udah sampek jalan eh bingung mau kemana malah nanya sama aku. Akhirnya muter-muter bentar akunya ajakin kesini deh” cibir Rena seraya menyenggol-nyenggol lengan Dimas. Dimas hanya tertawa. “eh, ada Rena.. sama siapa nih?” ucap Tante sambil menaruh se toples cookies buatan kita tadi di meja ruang tamu lalu menyalami Dimas. “Dimas tan..” jawab Dimas dengan Ramah. “Rosa, tantenya Sasha.. ininih Ren, Dim cobain deh tadi tante sama Sasha coba bikin cookies..” jawab Tante lalu membuka tutup toples dan mengambil satu keping cookies diikuti Rena, Dimas, dan terakhir aku. “ini nih, maksud aku ajakin kamu bikin nih kue, tapi akunya males ke atas lagi takut ganggu kalian juga sih..” ucapku menjelaskan . “enggak lah Sha, Wow” ucap Dimas tanpa berkomentar dia melahap habis cookies itu. “Not bad..” ucap Tante Rosa. “Tau gitu tadi ajakin Ebbi kesini kan kalo tau tujuannya ke sini.. hmm, Enak banget tan, kapan2 ajakin Rena praktek dong tan..” ucap Rena sambil mengambil satu keping lagi. Dimas mencubit pipi Rena dengan gemas. Aku hanya tersenyum, sambil menikmati cookies ku. Rasanya lumayan, renyah, manis, dan.... “ouch...” Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku. Badanku begitu lemas dan tanpa terasa aku mengeluarkan air mata. Aku segera mengusapnya, membersihkan badan dan kembali ke ruang tamu. Aku membuka pintu, “kamu gak papa Sha?” ucap Rena yang ternyata menunggu di depan kamar mandi bersama Dimas dan Tante Rosa. “kamu kenapa sayang?” ucap tante Rosa sambil memegang pipiku. “nggak papah kok, aku gak papah.. mungkin karna aku ngerasain masakanku tadi.. hihi..” ucapku memecah suasana. Aku berusaha melangkahkan kaki ke ruang tamu, meski sedikit terhuyung. Dengan sergap Dimas segera menahan dan menuntunku duduk di Sofa. “obatnya udah kamu minum belum?” tanya Rena. Aku hanya mengangguk, disaat-saat seperti ini memang Rena-lah yang paling khawatir. “hmm, aneh yaa.. semenjak keluar dari rumah sakit waktu itu, aku jadi sering pingsan dan muntah-muntah” ucapku dengan tubuh yang masih lemas. Memang setelah keluar dari rumah sakit awalnya sembuh, tapi tiba-tiba perutku jadi sakit, muntah, bahkan pingsan yah bisa di bilang masih sering kambuh-lah. Dokter cuman memberiku satu obat, yang entahlah obat apa itu. Tapi setiap aku merasakan sakit jika aku meminumnya, rasa sakitku jadi berkurang bahkan hilang. Tapi aku lama-lama juga capek kalau terus kambuh seperti ini, aku capek....
*to be a continue*

Rabu, 11 September 2013

★ Part 26



Aku membuka mataku, aku memandang langit-langit kamar. Rasanya kepalaku benar-benar pusing. “Sudah bangun sha?”  aku menoleh. “kakak?” ucapku setelah melihat kak Nessa berada di sampingku, “kaget ya? Semalem kamu pingsan lagi, kakak yang angkat kamu ke atas kasur, kamu berat banget sih sha.. haha” ucap kak Nessa sambil menyodorkan segelas susu hangat. “aku pingsan lagi?” tanyaku setelah meneguk habis susu itu. “iya.. dengan mata sembab gitu, kenapa lagi sha?” ucap kak Nessa. “enggak papah kok kak, cuman gak kuat nahan sakit ajah” jawabku berusaha menutupi. “kakak tau kamu bohong, mungkin sekarang kamu belum mau cerita sama kakak. Kakak bisa ngerti kok, kakak cuman pingin kamu tau, sesibuk apapun kakak, kakak selalu luangin waktu buat dengerin cerita Sasha..” ucap kak Nessa sambil tersenyum seraya menyodorkan handuk lembut padaku. “sana mandi, kakak sudah siapin air hangatnya. Dua jam lagi tante Rosa ke sini, kakak harus ke luar kota sama atasan kakak.” Ucapnya lagi sambil merapihkan tempat tidurku, melihatku duduk di tepi ranjang kakak menarik tanganku dan membantuku duduk di kursi rias di sebelah ranjangku. Papah adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan tante Rosa satu-satunya adik perempuannya. “loh, kakak nggak kuliah?” tanyaku sambil memasang shower cap di atas kepalaku. “kuliah kakak libur sha, kakak ke bawah dulu ya” ucapnya sambil membawa gelas susu, dan beranjak meninggalkanku. “oh iya, tadi Ebbi telfon, dapet salam tuh kamu.” Ucap kak Nessa sambil tersenyum, kak Nessa menutup pintu kamarku sebelum aku membuka mulut. “Ebbi?”

ooOoo

Kepalaku benar-benar terasa berat, seolah puluhan buku novel yang aku punya kini bertumpuk di atas kepalaku. Aku berjalan terhuyung, lalu menghempaskan tubuhku ke ranjang sebelum pingsan.  Aku memejamkan mataku sejenak, aku mengambil nafas dalam-dalam. Setelah terasa lebih enakan aku bangun dan menuju ruang tamu. “Sashaa.. apa kabar sayang? Lemes gitu?” ucap tante Rosa seraya memeluk dan mencium kedua pipiku. “agak nggak enak badan tan..” ucapku dengan lemas setelah mencium tangannya. “mana om Bimo?” ucapku melihat ke arah pintu depan. “tante sendirian sayang, om Bimo kemaren berangkat ke Surabaya, berhubung tante dapet kabar kalo Nessa mau ke luar kota, ya tante main-main aja kesini, tante kesepian Sha berdua sama Dii terus” ucap tante Rosa panjang lebar. “Thathaa..” aku menoleh, kak Nessa menggendong gadis tembem berumur 3 tahun itu, Dii memang masih cadal, dia memanggilku thathaa karna dia belum bisa menyebut huruf S. “Diianaaa...” ucapku gemas dan langsung menggendongnya, Dii hanya diam sambil memelukku. Bau bedak bayi itu benar-benar menenangkan hati. “aku berangkat ya, daa Sasha, daa Tante, bye Dii..” ucap kak Nessa setelah mencium tangan Tante Rosa dan mencubit pipi Dii. Dii melayangkan kiss bye lalu memainkan rambutku yang aku kuncir. Aku menoleh ke belakang, melihat handphone kak Nessa yang ketinggalan, aku menoleh lagi ke arah kak Nessa “kakak handphone-nya tuh..” ucapku. Dii terkikik geli. “Thathaa.. hihihihi lambut Thathaa.. geli gelii, Dii geli Thatha” ucapnya sambil tetap tertawa. Ternyata saat aku menoleh rambutku berkibas-kibas mengenai wajahnya. Aku menidurkannya di sofa lalu menggelitik wajahnya dengan ikatan rambutkku seperti melukis dengan kuas. Dii tetap tertawa sambil menggosok-gosok hidungnya yang gatal. Hatchiii.. Dia pun bersin, Aku dan Tante Rosa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Dii.
 ooOoo
Aku memandangi handphone, terngiang-ngiang suara Vino semalam. Tante Rosa sendang di dapur masak untuk makan siang, aku menarik nafas panjang. “Thathaa..” ucap Dii yang tiba-tiba datang membawa boneka kesayangan-nya lalu menyandarkan dagunya di lututku, dia menatapku sedih dengan mata berbinar-binar. “aku mengangkat tubuhnya dan ku duduk-kan di sebelahku. “Dii gak ada temen?” tanyaku, Dii mengangguk sedih. Aku membawanya ke depan TV dan aku memperlihatkan Film-film kartun koleksi-ku. Dia menunjuk film Rapunzel. Dia pun menonton dengan duduk manis, aku menemaninya. Setelah film itu selesai, Tante Rosa mengajak kita makan siang. Tapi Dii bersikeras menolaknya, Dii tidak mau makan. Tante Rosa tetap memaksa, tapi Dii malah lari kesana kemari. Tante Rosa kehabisan kesabaran, dia pun memarahi Dii. Dii bersandar di pojokan tembok ruang makan dengan wajah sedih, “mama Gothel jahat” ucapnya. Aku dan tante Rosa tertawa, dia terlalu sering menonton film Rapunzel sepertinya. “Kalo Dii gak mau makan, mama bakal jadi mama Ghotel beneran nih..” ucap tante Rosa sambil melipat tangannya di depan dada. Akhirnya Dii menyerah, dia akhirnya makan meskipun sambil di buang-buang. Aku menyantap makan siangku dengan lahap. “Oh, iya Sha.. gimana? Kamu masih rutin Kemo?” ucap tante membuatku berhenti mengunyah makanan yang ada di mulutku. “Kemo apa tante?” tanyaku heran, bukannya Kemo itu terapi untuk orang yang mengidap penyakit kronis? Seketika perutku mual dan kepalaku berputar. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua makan siangku. ~lagi “aku mulai benci ini..”.
*to be a continue*

★ Part 25



Aku membuka diaryku, dan mulai menggoreskan pena.  

Desember 16th Dear Diary,
“Seandainya kehidupanku seindah bintang dilangit, tak akan ada sepi tak akan ada luka.
Menari indah di atas sang gelap malam, tak peduli apapun yang terjadi di bawah sana.
Tetap tersenyum berkelip riang, tanpa harapan dan angan-angan palsu yang membuatku jatuh. Seandainya aku menjadi bintang, tak akkan ku biarkan seorangpun menyakiti hatiku. Seandainya”

“sasha..?” ucap seseorang dari belakangku. Aku segera menutup diaryku, dan aku menoleh. “Kakak..” ucapku seraya mencium tangan kak Nessa. “sudah tadi?” tanyaku, “barusan kok..” jawabnya. “ lagi liat bintang sha?” lanjut kak Nessa, dia duduk di sebelahku dan memandang ke langit. “iya, sambil nulis diary... hehe seperti biasa..” ucapku sambil tersenyum seraya menunjukkan buku diaryku. “bagus banget ya?” ucap kak Nessa sambil tetap memandang langit. “aku selalu menyukai apapun tentang bintang” jawabku sambil tetap mengagumi indahnya malam. “kenapa gitu?” tanya kak Nessa namun tak memalingkan pandangan matanya. “mereka cantik, mereka selalu bikin aku tenang, mereka gak pernah bosen temenin aku, dan yang paling penting mereka gak pernah bikin aku nangis kayak yang lain kak” jawabku sambil memandangi diaryku. Kak Nessa hanya tertawa ringan. “di diary itu.. apa yg kamu tulis?” tanya kak Nesa setelah memandangi diaryku. “Semuanya” :) jawab-ku. “Semuanya?” ulang kak Nessa “yap apapun, bahkan hal sekecil apapun” ucapku. Kak Nesa hanya tersenyum dan menatap langit. Entah benar atau tidak, kak Nessa membuatku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan .

ooOoo

Aku menatap langit-langit kamar sambil sesekali meremas-remas perutku seolah dengan begitu rasa sakitku berkurang. Aku memandang fotoku dengan Vino yang tersusun rapi di pigura yang menempel di dinding kamarku. Entah kenapa tiba-tiba aku benar-benar merindukannya. Aku ingat saat dia menemaniku, saat dia selalu ada disisiku saat aku sakit. Aku benar-benar merindukannya. Air mata hangat mulai menetes di pipiku, berkali-kali aku mengusapnya tapi percuma. Drrrt drrtt.. aku menatap handphone-ku yang bergetar di atas meja rias, awalnya ingin ku biarkan, tapi handphone itu terus bergetar. Mungkin jika itu sms aku akan membiarkannya, aku berdiri dan segera mengambilnya. Seperti biasa aku menatap layar handphone sesaat sebelum menerima telfon. “hah? Vino?!” ucapku tak menyangka, bahkan air mata yang jatuh dipipiku karena Vino belum kering.
“ha..haloo?” salamku dengan suara dan tangan yang bergetar
“mm, ya halo sha?” ucapnya juga sedikit gugup
“ada apa no?” ucapku sambil mengusap air mataku yang masih terus menetes
“mm, kamu nggak papa kan?” tanyanya, perntanyaan itu sungguh membuatku hanya diam,
“ini Vino bukan sih?” ucapku masih tak percaya
“iya lah, kenapa sih? Kayak di telfon setan aja, kamu gak papah kan?” ucapnya meyakinkan
“mm, nggak papah kok, tumben telfon? Ada apa?” jawab sekaligus tanyaku
“nggak papah sih, tadinya mau telfon Alda, tapi salah sambung ke kamu, yaudah deh sekalian aja, lagian aku juga jarang telfon kamu kan...” ucapnya panjang lebar
“...”
“halo, shaa.. kok diem? Kamu nggak papah kan?” ucapnya lagi, setelah sadar aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Tanpa menjawab aku langsung memematikan telfonnya. Aku nggak habis pikir, sebenernya kita itu siapa sih? Kita itu belum putus kan, gimana bisa Vino bener-bener berubah kayak gini? Seolah kita bukan siapa-siapa lagi. Selama ini Vino selalu jaga perasaanku, Vino gak pernah bisa lihat aku sakit hati gara-gara dia. Yang aku tau, dia selalu buat aku bahagia. “arrgghh” aku mengerang kesakitan, aku meremas perutku sambil menangis dan memeluk handphone-ku.

*to be a continue*

Pink Transparent Star