“apa urusannya ikut campur, pakek
buka buka sms aku lagi! Itu kan privasi” omelku. “kenapa sih sha?” tanya Rena,
“nih baca, tadinya aku sms Vino jelasin gimana tadi ada Ebbi di sini, dia kan
gak tau kalo kamu di sini juga. Eeeh, malah yang bales si rok mini itu!” ucapku
benar-benar kesal seraya menyodorkan handphoneku. “udah biarin aja sha, tunggu
Vino hubungin kamu.. kita gak tau kan kapan Alda kepisah sama Vino?” tutur Rena
membuatku tenang. Kayaknya pacar Vino aku deh, kenapa yang selalu lengket sama
Vino si Alda itu? Payah banget L.
“oh iya dari pada ngomongin Alda
rok mini itu gimana kalo kita ngomongin Dimas? Hehe” ucap Rena polos,
“yaelaaaaaah Renaa..” ucapku dan Ebbi serentak. “ciee yang sebentar lagi
balikan nih,” ucap Ebbi mendadak membuatku kaget. “ihh apaan sih bi!” ucap Rena
malu-malu. “udah gak usah malu-malu Ren, toh kamu seneng kan kalo bakal balik
sama Dimas? Ceileeeh” timpukku membuat Rena semakin merona. “benernya….” Rena
berhenti melanjutkan kata-katanya, sepertinya dia sengaja membuatku dan Ebbi
penasaran. “apaan?” tanyaku yang benar-benar penasaran. “umm, kasi tau nggak
yaa??” ucap Rena sambil cekikikan padaku dan Ebbi. Ebbi hanya memandangi Rena
dengan tampang yang super duper penasaran. “benernya.. aku .. sudah balik sama
Dimas! Aaaa!!” teriak Rena membuatku dan Ebbi shock setengah mati. “yang
bener?!!” ucapku. “Pantes aja akhir2 ini Dimas slalu tanyain kamu Ren” sahut
Ebbi, “ya kan aku balik sama dy juga gara-gara kamu bi, thanks ya Ebbi” ucap
Rena seraya mencubit pipi Ebbi. Ebbi hanya tersenyum membuat matanya
benar-benar terlihat sipit. Melihatnya aku benar-benar merindukan Vino :( .
Tapi aku benar-benar beruntung punya Rena dan Ebbi, mereka selalu tau gimana
caranya bikin aku tersenyum lagi. J
ooOoo
“halo?”
“ya halo?”
“inii.. bener nomor
Sasha kan?”
“iya bener kok, eh ini Vino? Ini Ebby no, Sasha.nya lagi ke
belakang tuh, tauk ngapain. HP nya ditinggalin di ruang tamu nih.”
“…”
“haloo?”
“Siapa bi?” tanya Rena. “Vino
kayaknya,” ucap Ebbi seraya memandangin handphone-ku. “terus dia bilang apa?” tanya Rena lagi.
“tauk, langsung di matiin tuh, gak sopan banget” cibir Ebbi. “Jelous tuh dia
bii, haha” jawab Rena. “yee kamu Ren, ada orang jelous malah diketawain, gak enak
tau sama Sasha!”, “Heiii,” sahutku. “Tadi Vino telpon sha, aku angkat belum
selesai ngomong udah di matiin. Gak sopan banget” jelas Ebbi. “oh yaa??” tanpa
pikir panjang aku langsung menyambar handphone-ku dari tangan Ebbi. Aku mencari
nomor Vino dan aku menghubunginya. Tuuuut tuuut tuuut….
“halooo??”
“….”
“ada apa shaa? Vino-nya lagi
tidur nih, aku di kamarnya di tinggalin tidur, yaahh jadi ngerjain tugasnya
sendiri deh, nyebelin emang tuh anak…….”
Aku menutup telpone dengan begitu
saja. Bruk. Aku menghempaskan tubuhku di sofa. “kenapa lagi sha?” tanya Ebbi,
“Alda yang angkat, katanya Vino ketiduran. Rok mini itu lagi di kamarnya Vino
bii” tanpa aku sadari air mataku mulai menetes di pipiku. “jangan negative
thinking dulu sha, pasti dia emang gak sengaja” ucap Rena memelukku seraya
mengusap air mataku. Aku nggak abis pikir sama Vino, apapun udah aku kasih ke
dia. Apa yang kurang dari semua yang aku kasih? Pikiranku melayang-layang
mencari jawabnya. Ebbi menyahut handphone di tanganku, dan menelpon ke nomor
Vino.
“aku Ebbi! Mana Vino! Aku ma
ngomong sama dia!”
“ya aku Vino, masalah mu apa bi?
Biasa aja kali?!”
“kata Alda kamu tidur? Kamu
sengaja bikin Sasha sakit hati?”
“kalo iya masalah buat kamu bi?!”
“kamu emang gak punya perasaan ya
no?! kamu seneng liat sasha nangis?! Cuma gara-gara ALDA?!!!!”
“eh! Ya gak usah nyolot gitu
dong! Ini masalahku sama Sasha! Jadi kamu gak perlu ikut campur!”
“aku berhak ikut campur! Karna
aku punya perasaan! Aku gak suka liat sasha nangis! Gak kayak KAMU!”
“mending kamu sekarang ngomong
dimana kamu sekarang! Kita selesein secara jantan!”
“oke! Aku di rumah Sasha!”
“…”
Air mataku semakin deras
mendengar ucapan Ebbi, aku gak nyangka Ebbi bisa semarah itu, Rena tetap
memelukku dengan tubuhnya yang gemetaran. “udah bi, jangan pakek emosi, pliss”
pinta Rena yang benar-benar takut melihat orang bertengkar. Ebbi hanya diam
sambil meremas-remas, entah apa yang dia remas di tangannya yang kosong. Drrtt
drrrttt… Rena menerima sms.
From: Dimas <3
Aku sudah sampai di terminal
sayang, jadi jemput enggak nih? J
Miss u darl :*
“Oh… my… GOD… !” sentak Rena.
“kenapa ren?” tanyaku pelan. “Aku lupa , aku harus jemput Dimas di terminal..”
ucapnya sambil menatap kosong ke arah layar handphonenya. “yaudah kamu jemput
dulu aja, toh terminal gak jauh dari sini. aku disini nunggu Vino sama…..”
BRAAAK!! Kepalan tangan Vino menghantam telak di muka Ebbi. Ebbi terjatuh dan
menendang Vino hingga terpuruk. “Vino!!! Ebbi!!” teriakku dan Rena. Aku sibuk
melerai mereka sedangkan Rena berusaha menghubungi Dimas untuk segera datang.
“Sudah! Sudah! Kok jadi tengkar gini sih!!” ucap Rena setelah selesai
menghubungi Dimas. “Vino! Udah!” aku berusaha menahan Vino dengan memeluknya
meskipun dia begitu kuat berusaha untuk melepaskan pelukanku. Rena berdiri di
antara Ebbi dan Vino sambil merentangkan tangannya tapi dengan mudahnya kita
berdua terjatuh karna dorongan mereka. BRAK! Ebbi memukul Vino, dan Vino
mimisan!! Vino segera berdiri dan menghampiri Ebbi, rupanya dia akan membalas
pukulan Ebbi, tapi Aku segera menariknya. Aku dan Rena hanya menangis, kita
sangat takut melihat mereka seperti ini. Seketika mereka berubah menjadi sosok
yang gak kita kenal. “Heh! Kalo emang mau ngerebut Sasha bilang aja bi!! Gak usah MUNAFIK!!” ucap Vino seraya melepas
genggamanku di lengannya dengan keras. “eh! Lo itu yang munafik! Ngakunya
sayang sama Sasha! Tapi bisanya cuma bikin nangis dia!” sentak Ebbi “ye ! la lo
la lo! Sok banget sih! Haha! Kamu jelous kan selama ini liat aku sama Sasha?!
Kelihatan kok dari gaya kampungan.mu itu!!” ucap Vino seraya menuding-nuding
kea rah muka Ebbi. Ebbi mengayunkan pukulannya sekali lagi dan Rena segera
mendorongnya. “SUDAH!!! AKU GAK KUAT LIAT KALIAN! KALIAN SAMA AJA ! KALIAN
KAYAK ANAK KECIL! GAK BISA BERSIKAP DEWASA!” aku berteriak sekuat kuatnya
sambil menangis. “ini semua gara-gara Ebbi sha!!” jawab Vino sambil menuding
kea rah Ebbi, Ebbi sudah siap mengayunkan tangannya lagi, tapi dengan cepat
tangannya tertahan. “DIMAS?” ucap Rena. “ini yang namanya sahabatku?” ucap
Dimas seraya melepas tangan Ebbi. Dimas melihat tajam kea rah Vino dan Ebbi,
“aku kira sahabatku udah bisa bersikap dewasa, ternyata… haha..”. “Dimas,
sorry.. tapi bukan gitu maksud aku Dim” Ebbi mencoba menjelaskan apa yang
terjadi. “Ebbi jelous liat aku jalan sama Sasha” jawab Vino dengan cepat.
“bukan gitu no!” jawab Ebbi, “halah! Gak usah ngeles deh bi! Dia itu emang
jelous liat aku sama Sasha dim, dia mikir yang aneh-aneh tentang aku sama Alda”
jelas Vino. “Alda? Alda siapa? Siapa itu?” jawab sekaligus tanya Dimas. “temen
sekelasnya Vino yang kemana-mana selalu sama Vino, lengket banget sama Vino.
Bahkan Vino bisa lupa sama Sasha kalo lagi sama Alda!” sentak Rena yang mungkin
juga kesal karena ulah Vino. Aku kembali ke mereka setelah mengambil kotak P3K.
Aku membersihkan darah yang keluar dari hidung Vino dan mengompres memar yang
ada di dahinya. “Apanya? yang ada Ebbi yang selalu ngintilin Sasha kemana-mana!
Awwww!! Pelan-pelan dong shaa!” sangkal Vino, yang lalu tertahan karena aku
yang mengobati lukanya terlalu kasar. Memang sebenarnya aku sengaja melakukan
itu, masih sakit hati rasanya mendengar ucapan Alda di telepon tadi. “harusnya
kamu ngerti no..” ucapku sambil menangis. Serentak mereka melihat ke arahku.
“Ebbi cuman deket kita gara-gara dia selalu kasih informasi tentang Dimas ke
Rena, sampek akhirnya mereka jadian, sedangkan kamu? Apasih yang kamu lakuin di
kamar sama Alda berdua di kamar? Sedangkan aku pacar kamu sama sekali gak
pernah kamu ajakin ke rumah kamu no?” ucapku sambil tetap mengobati Vino.
“maaf..” ucap Vino pelan, mereka semua terdiam sambil mencerna apa sebenarnya
yang terjadi di sini. Rena masih tetap menangis sambil mengompres memar2 di
muka Ebbi, memang gak ada darah yang keluar tapi memar di wajah dan lengan Ebbi
cukup parah. “Kalian bisa selesein masalah ini baik-baik kan? Kalian selesein
dengan cara yang dewasa?” ucap Dimas bijak. “nanti kita bisa ngomong berdua kan
bii?” tanya Vino padaku. Aku hanya
mengangguk sambil mengusap air mataku. Vino ikut mengusap air mataku. Kitapun
mulai tersenyum meski masih dalam suasana kaku. *to be a continue

