Dimas emang bener-bener keren,
dia cuek banget mungkin karena sifatnya yang cuek n dingin itulah yang bikin
apapun yang dia pingin selalu tercapai, dia gak mau tau urusan orang lain dan
dia jugga gak suka kalo ada orang yang ikut campur urusannya. Dia gak peduli
omongan orang tentang dia. Dulu Rena bersahabat
dekat dengan Dimas dan Nicky tapi sejak saat Rena jadian sama Dimas n sejak
Dimas sakit hati karena ejekan Nicky yang tidak suka Dimas begelut di dunia
masak-masakan, persahabatan mereka bubar gak tau gimana jadinya. Nicky anak
biasa yang berbakat banget, dia berbakat music dan modeling, dengan wajah yang
mampu menarik kamu hawa dia dengan mudah mendapat tawaran di sana sini. Jadinya
dia ‘banyak duit’ tentunya dari usahanya sendiri. Tapi karena itulah yang malah
bikin dia sombong. “Shaa..Ren.. jangan berisik doong, kakak banyak tugas nihh!
Gak bisa konsen kan jadinya!!” teriak kak Nessa dari balik pintu kamarku. “iya
kaak!” jawab ku dan Rena kompak. “buruan buka! Ini kakak gak bisa buka!” ucap
kak Nessa “iya kak, gak berisik lagii..” jawabku sedikit jengkel. “nah looh,
jadi gak mau jus jambunya niih??” Tanya kak nesa masih di balik pintu. Aku dan
Rena saling bertatapan dan senyum sumringah segera membuka kan pintu kamar
untuk kak Nessa, perlahan2 muncul sosok wanita cantik yang membawa dua gelas
berisi jus jambu kesukaan ku dan Rena, sudah ku bilang kan kalo selera kita
sama? :D. Kita berdua hanya tersenyum, mengambil jus, dan menutup pintu kamar
lagi lalu berteriak sama sama dari balik pintu “makasih kak Nessa yang cantik”
sementara kak Nessa masih di depan pintu “dasar kalian yaa.. kalo ada maunya
ajaa!”.
~~~~~
Di sekolah “sha, istirahat yukk?”
ucap Rena. “aduuhh perut ku sakit banget nihh Ren, kamu duluan ajja deh, kalo
udah agak enakan aku nyusul..” ucapku sambil meremas-remas perutku yang
bener-bener sakit. “apaan shaa? Kamu sakit? Kamu kenapa ? sampek pucet gitu
lohh?” ucap Rena khawatir sambil menempel-nempelkan punggung tangannya di dahi
dan di leherku. “gak panas kok? Kamu kenapa sihh shaa? Umm, diare?” ucapnya
masih dengan mimik yang khawatir, “enggak reen” ucapku yang sebenarnya udah gak
kuat ngomong. “umm, laper.. laper??” ucapnya lagi “enggak renaa..” jawabku yang
mulai sebell sama Rena, banyak Tanya banget siih gak tau sakit banget apa??
>< “umm kebelet yaah?” tanyanya dengan wajah polos yang masih keliatan
khawatir banget. “enggak kok renn, udah kamu istirahat dulu sana, jangan telat
makan nyaa.. disminore kali aku..” ucapku sambil mendorong-dorong badanya. “iya
dehh, tungguin yaa.. gak lama kok sha..”. Aku melihat Rena yang mulai
melangkahkan kakinya meninggalkanku sambil terkadang menoleh ke arahku.
Perutku sudah agak enakan,
akhirnya aku memutuskan untuk menyusul Rena meskipun waktu istirahat sebentar
lagi sudah habis. Aku melihat Rena duduk sendirian duduknya menghadap ke arah
taman dan membelakangiku dia sedang asyik menyantap makanannya, aku ingin
menghampirinya namun ada seorang lelaki yang menghampirinya, aku pun
mengurungkan niatku aku menghentikan langkahku dan bersembunyi di balik pohon
yang lumayan besar dibanding dengan ukuran tubuhku yang kurus. Aku melihat
kearah mereka sedetile2nya. Ternyata lelaki itu adalh Vino, dan mereka
sepertinya membicarakan hal yang benar-benar serius. Rena mengucapkan sesuatu
dengan malu malu dan itu membuat Vino tersentak dan menjadi gugup. Aku berusaha
mendengarkan pembicaraan mereka namun sia-sia entah apa yang mereka bicarakan,
aku hanya bisa melihat gerak gerik mulut mereka
berusaha mengerti apa yang mereka bicarakan. Lalu Vino menjawab dengan
gugup dan malu malu jugga, dan sepertinya itu benar-benar membuat Rena senang
hingga Rena memeluk Vino dengan sangat
erat, hah? MEMELUK VINO? Ssalah satu orang yang paling aku sayang? Apa
maksudnya?? Jadi mereka ??? “Reenn….. Reenn.. Renaaa..” ucapku gugup yang tak
disangka membuat Rena mendengarku dan memandangku dengan wajah SHOCK!
“Sashaa?!!”. *to be a continue*

0 komentar:
Posting Komentar