Rabu, 27 Juni 2012

★ Part 17


Seharian ini Vino dan Rena menemaniku di rumah. Hari mulai gelap dan kita sholat maghrib berjamaah. Vino yang menjadi imam. Suaranya begitu merdu dan membuatku semakin jatuh cinta padanya. Selesai sholat, kita makan malam bersama. Kak Nessa yang sudah menyiapkannya sekarang sudah meluncur lagi, dia pergi dengan kak Indra. Saat ini kak Nessa sering banget keluar dengan kak Indra, mungkin mereka sudah jadian. Hihihi. Memikirkan hal itu membuatku cekikikan sendiri. “kenapa shaa?” tanya Rena yang mau melahap nasi di sendoknya terhenti melihat tingkahku. “gapapa ren, hhi seneng ajja hari ini :D” ucapku sambil meringis. Aku melahap suapan terakhir dan aku menuangkan air putih di gelasku , di gelas Rena lalu berikutnya gelas milik Vino “makasih sayang,” ucap Vino seraya tersenyum tulus padaku. Dia meneguk habis air itu. “Rena.. buruan, ayo ke taman .. kita lihat bintang yuk? Langitnya cerah banget ini” ucap Vino membuat Rena melahap suapan terakhirnya dengan tergesa-gesa. Renapun segera meneguk air putihnya dan menarik tanganku dan Vino menuju taman belakang. “loh kok jadi kamu yang paling semangat Ren? Kan aku yang pengen banget liat bintang sama kalian ?” ucapku pada Rena, “oh iya tunggu ..” Rena berlari masuk. Aku dan Vino bertatapan lalu kita tertawa. “haha kenapa dia?” ucap Vino menahan tawa. Aku hanya mengangkat bahu. “ini diaa!!!” teriak Rena dari dalam rumah dan berlari ke arah taman. “sasha harus tulis di sini apapun yang sasha rasain, yang sasha gak bisa ungkapin :D ini kan udah jadi punya kamu sha.. bukan kita lagi J” ucap rena sambil menyodorkan diary kelip bintang-ku. Mereka berduapun asyik melihat bintang Rena duduk di bangku taman yang sama denganku, dan Vino duduk di ayunan menyandarkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya  sehingga dia bisa melihat bintang sambil berayun-ayun. Akupun mulai menggoreskan penaku.

May 14th Dear Diary,
“Now I'm here, blinking in the starlight.. Now I'm here, suddenly I see.. Standing here, it's all so clear…I'm where I'm meant to be”
Kalau ada yang bertanya padaku kapankah saat paling bahagia dalam hidupku, itu adalah ketika aku menjadi aku, menjadi Sasha yang sebenarnya, yang mempunyai ayah dan ibu yang sangat baik seperti Mama dan Papa, yang mempunyai kakak sebaik kak Nessa, yang mempunyai sahabat sebaik Rena. Dan mempunyai pacar yang tulus menerima aku apa adanya, Vino. Entah apa yang terjadi jika tidak ada mereka, mungkin aku nggak akan punya karakter selembut ini, mungkin aku nggak sesabar ini, dan mungkin aku nggak setegar ini. Aku pernah membaca buku dongeng, saat kita memohon dengan tulus dan sungguh sunggu pada Bintang permohonan kita akan di kabulkan J dan kini aku mohon.
BINTANG, aku yakin kamu juga tau… apa yang aku rasa saat ini, aku ingin mreka tau aku bener2 sayang sama mereka.. dan, satu yang aku ingin AKU GAK INGIN KEHILANGAN MEREKA.. selamanyaaaaa, please.. please.. please.. u,u

Aku menutup buku itu, aku menatap bintang-bintang di langit. Kerlap kerlip mereka, seolah tersenyum padaku. “Sha..” ucap Vino yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Aku menoleh ke kiri, Rena masih asyik menatap bintang di langit entah apa yang ada di pikirannya. “iya no?” jawabku seraya menoleh ke arahnya. “mulai sekarang, kalo ada apa-apa kamu bilang aja.. jangan anggep aku orang asing.. aku gak pengen cuma jadi pacarmu, aku pengen jadi pacar yang bisa jadi orang tua, kakak, adik, n sahabatmu J” ucap Vino memandangku. Aku menatap Vino dalam-dalam, matanya yang tajam dan berbinar-binar begitu indah. Tangannya naik turun di punda kiri-ku, tangannya melingkar di pundakku, dia memelukku, aku menyandarkan kepalaku di pundaknya dan mata kita menerawang langit malam yang bertabur bintang. "Vino..” ucapku lirih sambil tetap pada posisi yang sama. “hmm..” jawabnya singkat. “I love you so much” lanjutku melihat bayangan hidungnya yang mancung. “I love you more..” jawabnya seraya mengecup keningku. Aku memandang bintang paling terang, hatiku berdebar dan seolah berkata pada bintang itu ♥ please.. please.. please.. *to be a continue*



★ Part 16


Aku segera menghabiskan makananku, aku mengganti pakaianku dan aku berkaca. Kusisir rambutku dan ku ikat setengahnya ke atas, ku pasang arloji di lengan kiriku dan aku memandangnya pukul 12.23. Aku menyahut cardiganku. Aku ke garasi dan aku mengeluarkan sepda pancalku, sudah lama sekali aku tidak memakainya. Bannya sedikit kempes, dan aku memompanya sedikit hingga cukup keras dan kuat untuk aku pakai. Aku memakai sepatu flatku dan aku menaikkan topi di balik cardiganku. Siang bolong begini sudah pasti cuaca panas banget. Aku pergi ke minimarket yang paling dekat, jaraknya 3 blok dari rumahku, lumayan jauh dan lumayan dekat :D. Aku pun goes dengan sepeda kesayanganku. Aku menyahut spaghetti dan pasta-nya. Aku jugga membeli beberapa buah dan ice cream. “ini saja mbak?” ucap kariawan di mini market itu, aku melihat di sekelilingnya akupun mengambil beberpa permen lolly, kesukaanku dan Rena. Setelah membayarnya, aku pun langsung pulang aku merebus mie spaghetti itu lalu aku hidangkan di piring dan ku tuangkan pasta di atasnya.. aku keluarkan beberapa strawberry, kiwi dan manga. Aku potong kecil-kecil dan aku mencampurnya di ice cream vanilla yang aku beli tadi. Aku masukkan ke dalam freezer. Aku melihat kentang goreng instan dan aku pun menggorengnya. Aku tiriskan dan setelah dingin aku campur dengan bumbu BBQ yang masih ada setengah bungkus.. lalu aku sajikan di piring besar, dan aku mengambil 2 mangkuk kecil, aku mengambil botol mayonnaise dan saus sambal. Aku menuangkannya di dua mangkuk itu. crott croott! “upss..” sangking bersemangatnya saus itu menyemprot dengan keras dan mengotori meja dapur serta bajuku. Bodohnya sasha memasak tanpa menggunakan celemek, dan akhirnya aku harus mengganti bajuku lagi.
Ting Tong.. bel rumah berbunyi. Pas sekali setelah aku mengganti pakaianku, aku berlari kecil menuju ruang tamu dan membuka pintu. Terlihat sosok pria paling tampan dan wanita paling cantik sedunia. Aku memeluk mereka berdua, “sasha.. cantik banget! Kamu makin gendut, dan.. seksi :p” ucap Rena setelah melihatku dari ujung kaki hingga ujung rambutku sambil tersenyum genit. “siapa dulu dong, pacarku gitu ren..” ucap Vino seraya mencium keningku dan memberikan kotak kaca yang lumayan besar, di dalamnya ada 2 boneka Barbie dan 1 boneka Ken (Barbie cowok). Ken menggunakan kemeja putih dan celana jeans panjang dan sepatu sneakers hitam putih, memeluk Barbie berambut coklat panjang yang diikat ponytail, dengan baju rajut tanpa lengan dengan topi menggantung dibelakangnya berwarna putih, lengkap dengan jeans dan high heel hitamnya . Dan Barbie itu menggandeng Barbie lain berambut hitam panjang dan berponi, menggunakan dress putih dengan motif-motif bunga berwarna biru, dan menggunakan stiletto biru dongker. “itu aku, kamu, dan Rena.. semoga kamu suka. Itu hadiah buat kamu karena kamu sudah berhasil sembuh..” ucap Vino seraya mengacak-acak rambutku. “makasih banget no.. aku suka banget..” ucapku seraya memeluk Vino. Dia memelukku erat dan memutar-mutarkanku kakiku melayang dan aku merasa terpelanting, aku meremas pundak Vino dan berteriak saking takutnya. Vino-pun menghentikannya, “apa apaan sih no! nyeremin tauk! Kalo jatuh kan nggak lucu banget!” ucapku ngambek sambil memukul lengan Vino. “kalo jatuh ya, aku ketawain, hahaha.. habisnya kamu berat banget sha..” ucap Vino sambil meringis menyipitkan matanya. Saat dia tertawa melihatkan gigi taringnya yang panjang di kedua sisinya, dan dagunya yang  panjang membuatnya terlihat sangat manis. Badannya yang cukup tinggi dan lebih besar dari badanku membuatku nyaman saat memeluknya. “hha kalian itu lucu yaa, nanti sasha kurus kamu suru gendut no.. eh waktunya sasha udah agak seger.an kamu katain berat…” ucap Rena ikut ketawa membuat mata sipitnya terlihat seperti terpejam. Senang sekali melihat mereka berdua tertawa. “oh iya ayo ke ruang makan, aku masakin special buat kalian..” ucapku seraya menarik tangan mereka berdua. “tadaaa…” mereka serentak mencium aroma spaghetti yang menggiurkan itu. “wahh enak nih kayaknya..” ucap Rena, Vino hanya bengong dan melihatku. “udah makan ajja, aku ambilkan sesuatu..” ucapku tidak lupa memberikan senyumanku pada kedua orang yang sangat berarti bagiku itu. aku mengeluarkan ice cream buah yang sudah cukup mengeras lagi, aku menyendoknya kedalam 3 gelas dan aku siramkan sedikit saus coklat di atasnya aku pun membawanya ke ruang makan. Kita bertiga pun makan dan mengobrol banyak. Setelah habis kita meminum ice cream buah buatanku sambil nyamil kentang goreng BBQ yang aku buat tadi. “ini sengaja aku siapin buat kalian, aku mau bilang makasih banyak buat kalian, selama sakit aku udah banyak ngerepotin kalian… terutama Rena” aku memandang Rena yang tengah asyik melahap ice cream buah-ku, dan dia langsung terbelalak dan hampir saja tersedak. Diapun menelan berlahan, “lhoh aku? Aku kan gak ngelakuin apa-apa buat kamu shaa?” jawab Rena heran. “iya ren.. selama aku sakit kamu selalu nungguin aku, ngerawat aku tulus.. sampai-sampai kamu nggak ngerasa gitu.. hheehe makasih banyak ya Ren..” jelasku.  “kita kan bantuin kamu tulus sha.. gak usah makasih gitu, liat kamu sembuh aja udah cukup kok buat kita, iya gak Ren?” sahut Vino yang langsung melahap 2 batang kentang goreng yang ada di tangannya. “iya no, setuju..” ucap Rena. Aku pun tersenyum pada mereka “aku sayang banget sama kalian..” ucapku seraya melihat mereka bergantian. Mereka asyik melahap kentang goreng dan ice cream buahku sambil mengangguk dengan mulut penuh. “hha yaudah habisin ajja :) masih banyak kok kalo kalian mau tambah” ucapku sambil tertawa kecil melihat tingkah mereka. “habisnya enak banget sha :)” ucap Vino masih dengan mulut penuh. *to be a continue*

Kamis, 21 Juni 2012

★ Part 15


Kak Nessa tetap terus memberi kabar pada mama dan papa di Malaysia tentang keadaanku. Akhirnya mama memutuskan untuk pulang. Dan hari ini juga mama dan papa pulang, papa hanya tertegun milpat tangannya di dada melihat keadaanku dengan mata yang terlihat begitu sedih. Mama terus saja menangis dan menciumiku, memelukku dan berkali-kali mengucapkan kata maaf. “maafin mama sayang, maafin mama.. mama terlalu sibuk dengan dunia mama sendiri sampek gak bisa ngurusin anak sendiri.. mama bener-bener keterlaluan, semenjak eyang meninggal mama gak pernah bisa berpikir sehat.. mama merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan eyang, waktu itu mama dan papa tidak punya cukup uang untuk mengobati eyang dan periksa ke dokter, hingga eyang meninggal, mama merasa bersalah banget.. mama pengen cari uang banyak sukses hidup sama papa, dan gak akan terjadi lagi hal yang sama.. tapi mama salah, mama gak pernah memperhatiin kamu sayang jadi kayak gini, kak Nessa juga gak mungkin bisa mengurus kamu seutuhnya kak Nessa juga kuliah dan bekerja punya kesibukan sendiri mama bikin kamu hidup sendiri, dengan umur yang masih sangat muda.. maafin mama sayang” mama terus menangis dan memeluk tubuh kurus keringku dan berulang kali menciumi pipi dan keningku. Aku memandang papa yang berada di depanku. Aku memandang lagi kea rah mama “ini bukan salah mama kok, lagian kalo mama dan papa gak sibuk kerja kayak sekarang aku dan kak Nessa jugga bakal gak bisa hidup, gak mungkin bisa sekolah tinggi kayak sekarang” ucapku menenangkan mama dan papa. “apa papa gak pengen meluk sasha? Sasha kangen banget sama papa..” ucapku yang masih terdengar lemah, mama melepaskan pelukanku dan membetulkan lengan bajuku yang melorot memperlihatkan pundaku yang kurus karena mendadak piyama piyamaku menjadi kebesaran. Papa menghampiriku dengan tanpa sepatah katapun, matanya merah dan dia memelukku dengan lembut. “maafin papa ya sayang, princess papa jadi seperti ini.. tetap cantik, namun terlihat jaaauuhh lebih kurus” kali ini papa meneteskan air matanya. Baru kali ini aku melihat wajah tampan papah berlinangan air mata, baru kusadari kedua superhero-ku ini sudah mulai memunculkan guratan guratan halus di dahi dan sekitar matanya mereka semakin tua. Sangat mustahil seorang pria bertubuh tinggi besar dengan postur tegap dan gagah ini menangis hanya karena aku. Sasha..
Seketika rasa marahku pada papa dan mama luntur begitu saja, aku menjadi tenang setelah mendapat pelukan dari mereka. Tiba-tiba lagu CANON terdengar , HP papa berdering cukup kencang membuat seisi kamar inapku tertuju pada papa. “oh, I’m so sorry Mister.. I’m in Indonesia know, my daughter was sick.. maybe tomorrow I’ll go to Singapura with my wife, ok.. I’m so sorry mister, ok.. ok.. sure.. thankyou..” tutt tutt. Papa mengakhiri panggilannya. Aku begitu sedih mendengar ucapan papa barusan. Besok papa dan mama akan pergi meninggalkanku lagi? Mereka akan pergi ke singapura? “Nessa..” panggil mama, kak Nessa pun mendekati mama. “Papa dan Mama berencana membawa sasha ke singapura, mama pingin kamu ikut.. ambil cuti kerjamu dan kuliahmu mama ijinkan.. mama dan papa sangat butuh bantuanmu. 2 bulan saja, mama takut mama dan papa terlalu sibuk dengan kerjaan dan mungkin sasha akan kesepian di sana..” ucap mama menjelaskan seraya membelai rambut panjang kak Nessa yang tergerai rapi. “aku ? berobat ke Singapura??” ucapku terbelalak, “iya sayang, disana penanganannya lebih baik dan cepat, papa dan mama pingin kamu cepat sembuh, agar tidak menderita gini..” ucap papa yang masih berada di dekatku. “tapi Rena??” ucapku masih saja memikirkan sahabat setiaku itu. “Rena sudah mama kabarin sayang, kata Rena apapun yang terbaik buat kamu dia rela lakuin..” ucap mama tersenyum lembut.
Keesokannya kitapun terbang ke Singapura, dengan infus yang masih tertancap di tanganku. Tubuhku masih begitu lemas sehingga papa harus menggendongku saat aku naik di kursi roda. Di Sini sangat berbeda jauh dengan Indonesa, orangnya begitu cekatan. Aku menjalani pengobatan beberapa terapi dalam 2 bulan ini, dan alhasil aku semakin membaik. Tubuhku mulai lebih segar dan berangsur mulai kembali seperti semua, perutku sudah bisa kemasukan makanan dan aku tak pernah memuntahkkaannya. Namun tetap saja terkadang perutku terasa begitu perih. 2 bulan lebih seminggu aku sudah sembuh dan aku boleh pulang. Minggu kedua aku habiskan waktuku di apartement mama dan papa karena mama masih khawatir dengan keadaanku. Pada hari Minggu aku dan kak Nessa terbang ke Indonesia dengan senang hati, kak Nessa pun melakukan kegiatannya rutin, namun untuk seminggu ini aku masih harus istirahat di rumah. Untuk seminggu ini di rumah terasa sangat membosankan, hal itu aku manfaatkan untuk mengejar pelajaran-pelajaran sekolahku yang benar-benar tertinggal jauh.
Drrtt.. handphoneku bergetar, ada 2 pesan masuk.
Shaa.. nanti aku ke rumah mu yaa ^^ jangan kemana-mana.. okee?
Form: Rena
17/06/2012 11:39:28
“hembh, ternyata rena…” ucapku pelan aku kira kak Nessa, karena aku benar-benar kesepian saat kak Nessa pergi kerja maupun kuliah nanti sore. Aku buka satu pesan dibawahnya.
Tuan putri.. sudah baikan? Sudah makan? Jangan lupa sholat minum obat jugga ya? :* nanti aku kesana bawain hadiah kesembuhan kamu sayang :*
Form: My Prince ‘Vino
17/06/2012 11:38:12
Vino selalu mudah bikin aku tenang J. Aku pun segera mengambil air wudhu dan segera sholat dhuhur. Dalam do’aku selalu ada nama mama, papa, kak Nessa, Rena, dan pastinya Vino. Mereka adalah orang yang paling aku sayang saat ini. Akupun turun ke dapur mengambil makan dan ku bawa ke ruang tengah aku makan sambil menonton TV.  Saat itu ada FTV dan saat itu ada adegan seorang cowok memberikan kado untuk ceweknya dan mengucapkan kata terimakasih. Saat itu juga aku berfikir untuk berterima kasih pada Rena dan Vino tidak hanya dengan sekedar ucapan ‘Terima Kasih’. *to be a continue*

★ Part 14


“mamah!! Kak Nessa jahat bangett!! Bunga-bunga rangkaianku dihancurin semua maah!!” teriakku sambil menangis dan berlari kea rah Mama. “Yeee !!! Kakak gak sengaja tau!!! Kalo sasha gak naruh keranjangnya disitu kakak juga gak bakal jatoh terus rangkaian bunganya kakak hancurin! Nih lihat kaki kakak jadi lecet gara gara kamu!!” bentak kak Nessa sambil menahan sakit. “Sudah-sudah.. kakak kan gak sengaja sayang.. jangan nangis dong, masak princess kecil mama yang cantik ini cengeng sihh..” ucap mama sambil memeluk dan membelai rambutku. Pelukan mama saat itu benar-benar membuat ku merasa tenang, membuat aku begitu nyaman. “iya, sini sayang.. Sasha kan juga masih kecil, gak sengaja.. Kakak jangan marah yaa..” ucap papah sambil mengobati luka kak Nessa. “Sekarang maafan dulu ya, mama gak suka kalo ada tengkar-tengkar sama sodara sendiri, masak kalah sama binatang? Binatang ajja bisa akur sama sesamanya? Ayo.. maaf-maafan..” ucap mama sambil mendekatkan ku dengan kak Nessa. Aku menghapus air mataku dan mengulurkan tanganku. “Gak Mau!! Sakit tau sasha bikin kakak jatoh gini!! Peerih!!” ucap kak Nessa ngambek sambil melipat tangannya di depan dada dan membuang muka. “ihh.. princess papa kok gitu sih? Princess yang baik itu kan harus saling memaafkan” ucap papa sambil memeluk kak Nessa dari belakang. “maafin sasha ya kak..” ucapku seraya mengulurkan tanganku lagi. Kak Nessa pun masih berpikir-pikir. “hayoo.. siapa yang mau cookies bikinan eyang? :D” sahut eyang dari pintu ruang tamu sambil membawa piring berisi kue panggang bikinan eyang. Aku gak pernah melupakan rasa dan aroma kue panggang paling lezat di dunia  buatan eyang ini J. “akuu akuu!!” aku dan kak Nessa berlari dan berebut, tapi eyang menaikkan tanggannya sehingga piring itu tak bisa kita jangkau. “tapi ada syaratnya… kalian harus janji sama eyang.. kalian harus salinf memaafkan dan harus saling rukun, gak boleh tengkar-tengkar lagi..” ucap nenek sambil jari telunjuk di tangan kanannya mengayun-ayun kesana kemari di depan ku dan kak Nessa bergantian. Kak Nessa langsung saja mengulurkan tangannya dan aku segera menyambut jabatannya. Kak Nessa memelukku erat-erat dan itu sudah pasti akan kita lakukan setelah kita bertengkar. Bagiku dan Kak Nessa apapun akan kita lakukan demi kue panggang bikinan eyang yang super duper nikmat aroma dan rasanya itu. “itu baru cucu eyang..” ucap eyang sambil merendahkan badannya dan menyodorkan piring kue panggang itu, aku dan kak Nessa langsung saja menyahut kue panggang itu, “makasih eyaaang..” ucapku dan kak Nessa, aku dan kak Nessa memeluk eyang erat erat, aroma vanilla dan coco powder yang begitu melekat di celemek eyang. Masih jelas teringat di kepalaku dan aku masih bisa mengingat aromanya di tenggorokkanku. Aku melihat mama dan papa yang sedang membereskan mainan kita di taman, dan mereka tersenyum pada nenek. Senyuman hangat itu.. aku benar-benar merindukannya. Tak terasa aku bercerita sambil meneteskan airmata, kulihat Rena sudah tertidur di samping ranjangku. Dia duduk di kursi lipat dan kepalanya bersandar di ranjangku. Mengusap keningnya, pasti dia sangat capek. Sepulang sekolah dia harus langsung ke rumah sakit untuk aku, untuk menemaniku. Aku menggapai handphone ku di meja lampu sebelahku. Aku membuka contact dan aku mencari nomor mama. Namun aku ragu untuk menelpon mama, aku takut mama sedang bertemu kliennya atau sedang meeting dengan atasannya.  Aku takut mama sibuk. Tanpa sengaja karena cukup lama aku berfikir, lampu pada layar handphoneku mulai redup dan beberapa detik kemudian mati, aku tetap memandang layar itu. Tanpa sengaja aku melihat bayanganku sendiri. Sosok gadis yang begitu kurus, mata cekung, pipi kempong, dan wajah pucat pasi. “jelek sekali wajahku?” ucapku pelan. Aku menggapai sisir, aku melepas ikatan rambutku dan menyisir nya. Banyak banget rambut rontok yang tertinggal di sisirku. Terlalu sering di kuncir, dan yah sudah berapa minggu aku dan Rena tidak pergi ke salon untuk melakukan perawatan. Aku mengembalikan sisir dan handphone-ku ke tempat semula. Namun tiba-tiba kepalaku seperti dipijat pijat keras, terasa berputar-putar dan perutku seperti di aduk aduk dengan mixer adonan milik eyang. Tenggorokanku sesak dan aku memuntahkan mengeluarkan semua isi perutku. “sashaa???” aku masih lemah dan mataku berkunang, aku memandang kearah Rena. Rena terbangun dari tidurnya karena suara aneh yang aku keluarkan itu. *to be a continue*

★ Part 13


Sudah dua hari ini aku mulai masuk sekolah, namun karena tiap perut ku terisi makanan aku selalu memuntahkannya, dan semakin hari tubuhku semakin lemah karena taka da sumber energy yang bisa di olah dalam tubuhku, Dokter menyarankan aku untuk rawat inap di rumah sakit. Sudah tiga hari aku menginap di rumah sakit yang membosankan ini. Tanganku terkadang pegal karena ada jarum infus yang masih tertanam di nadiku. Aku menatap di sekeliling kamar inapku, karena Mama menyuruh kak Nessa memasukkanku di kamar VIP, hanya aku pasien yang ada di kamar itu. Karena memang hanya khusus satu orang saja. Kak Nessa baru saja pulang untuk mengambil ganti dan barang-barang keperluanku. Sore itu terasa begitu dingin aku menarik selimut tipis yang ada di kaki ku. Sedikit susah karena selang infus yang terjuntai hanya beberapa panjang itu. Tubuhku terasa begitu lemah, aku memandangi lukiran yang ada di dinding kamar itu, mawar putih yang begitu indah anggun dan terlihat begitu murni. Aku melihat lagi lukisan di sebelah pintu kamar mandi, lukisan ini ukurannya lebih besar dari lukisan bunga mawar tadi. BINTANG.. Aku langsung teringat pada Rena dan Vino, aku sangat ingin melihat bintang bersama mereka lagi. Ketika aku sembuh aku berencana untuk mengajak mereka melihat bintang. “aaw..” teriakku tertahan, aku melihat di selang infus itu, warna merah darahku begitu terlihat. Tak sengaja aku memandang tanganku, kurus kering.. entah aku sudah kehilangan berapa kilo berat badanku. Tok tok tok.. “Sore Sashaa…” sapa Rena sambil membawa beberapa tangkai mawar putih. “Tadi waktu pulang sekolah aku lewat toko bunga, terus waktu aku melihat bunga mawar putih ini aku jadi inget sama kamu, akhirnya aku beli deh buat kamu langsung kesini.. cepet sembuh dong sha.. aku kangen sama kamu, aku pengen main main lagi sama kamu Sha..” ucap Rena sambil membuka botol air mineral dan meneguknya. “iya Ren, aku juga kangen sama kamu.. makasih banget ya mawar putihnya aku suka banget..” ucapku sambil tersenyum ke arahnya. “lihat deh sha.. mawar ini cantik kayak kamu, putih, natural, wangi.. anggun banget, kalo gini kamarnya kan jadi seger, kalo seger cepet sembuh dehh” ucap Rena seraya membenahi Mawar-mawar yang dia bawa ke dalam vas. “Ren, aku mau tanya nih..” ucapku memandang Rena dalam-dalam. “Iya shaa.. tanya ajja” kali ini Rena duduk di kursi yang berada di samping ranjangku. “benernya aku sakit apa sih? Kok maghku sakit banget, aku jadi gak bisa makan normal lagi, aku selalu muntah muntah gitu?” ucapku yang masih penasaran dengan keadaanku. “kamu capek ya shaa sakit kayak gini? Bukan sakit apa-apa kok. Cuman penyakit Magh kamu sudah parah sha.. kamu susah cerna makanannya, sekarang dokter masih ngasih obat-obatan untuk ngurangin asam lambung kamu aja shaa.. belum untuk ngobatinnya..” ucap Rena sambil menggengam tanganku, alisnya mengkerut tatapannya begitu sedih menerawang kedalam mataku seolah dia membaca semua yang ada di otakku. “seandainya bisa, Rena pengen gantiin Sasha baring di situ, Rena gak tega liat Sasha menderita..” lanjutnya dengan berlinangan air mata. “Rena.. kamu lupa ya siapa sasha? Sasha kan orang yang kuat? Pasti aku sembuh sebentar lagi. Aku janji ! Buat kamu! Jangan nangis dong Ren.. aku gak tega ngelihatnya..” ucapku merasa bersalah, kalau saja aku tidak opname Rena nggak perlu repot-repot pulang sekolah menungguiku di Rumah Sakit. “Kamu pengen aku gak nangis?” ucap Rena mengusap air matanya. “iya Ren.. jangan nangis lagi ya?..” pintaku memohon. “tapi ada syaratnya..” kali ini Rena tersenyum sumringah. “ihh masak ada syaratnya sih, iya dehh iya apa itu Ren?” tanyaku ikut bersemangat. “berhubung kita kenal baru di SMA ini, mau gak kamu ceritain gimana cerita masa kecilmu yang berkesan? Dongengin aku? :D kan kemaren aku sudah dongengin kamu sampe ketiduran? Itung-itung biar seolah-olah kita sudah kenal mulai kecil” ucap Rena sambil meringis membuat mata sipitnya seperti terpejam. Sejenak aku berfikir, masa kecilku yang begitu menyenangkan, papa.. mama.. kak nessa.. dan eyang J *to be a continue*

★ Part 12


“Sha.. kamu gak papah? Kamu kenapa? Maafin aku shaa.. aku gak tau, aku kira kamu tadi ketiduran, ternyata kamu pingsan.. kamu sesak nafas ya? Aku peluknya keterlaluan ya sha?? Yaampun maaf banget shaa?” ucap Vino gelisah. “aku pingsan lagi?” tanyaku dengan suara yang masih lemah. “iya sha.. aku langsung antar kamu ke sini minta bantuan orang di café tadi. Kamu udah gapapa sha? Sekali lagi maafin aku ya shaa?” tanya Vino yang masih gelisah. “Udah tenang aja no.. kan mungkin Sasha masih belum sembuh betul tadi, mungkin dia kecapean aja. Ini sha, minum air nya mumpung masih anget, perut kamu masih sakit sha?” ucap kak Nessa lembut selalu membuatku tenang. Aku meminum air itu beberapa teguk saja “perih kak, mungkin gara-gara tadi makan kentang goring di café sama Vino terlalu banyak sausnya kali kak, udah gak papa kok” ucapku berusaha membuat kak Nessa tetap tenang. “kamu sih sha.. perut belum keisi udah makan gituan, kamu kan gak boleh makan yang pedas atau asam? Nih makan dulu buburnya, sudah kakak buatkan nih..” ucap kak Nessa terpotong karena mendengar dengungan uap air dalam cerek yang mendidih. “No.. titip Sasha ya, kamu mau minum apa? Kakak bikinin dulu..” ucap kak Nessa terburu-buru. “Cappuchino aja kak” ucap Vino cepat. Dan tanpa melontarkan satu katapun kak Nessa berlalu begitu saja. “ini sha, aku suapin. Kamu makan yaa, biar gak lemes gini” ucap Vino yang masih terlihat khawatir. Aku hanya diam dan melahap makanan itu. “tadi Rena udah aku telfon, terus katanya dia gak bisa ke sini, mungkin besok siang habis pulang dari rumah mamanya, iyasih kan sekarang udah malem banget..” jelas Vino seraya terus memasukkan makanan ke mulutku. Keluarga Rena adalah keluarga ‘broken home’ dia tinggal bersama ayahnya. Dan yang membuat aku salut, Rena menjalani semua ini dengan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba, aku merasakan perutku begitu perih dan tenggorokanku terasa sesak dan akhirnya aku memuntahkan semua makanan yang baru saja aku makan. Vino segera memanggil kak Nessa, dan akhirnya Vino membantuku masuk ke kamar dan kak Nessa membersihkan semuanya. Aku benar-benar merasa tidak enak dengan kak Nessa dan Vino. Di kamar,  Vino masih saja berusaha menenangkanku, membersihkan sisa makanan yang aku muntahkan di pakaianku, akupun memutuskan untuk mengganti pakaianku. Vino masuk lagi ke kamar setelah aku mengganti pakaianku. “kenapa kamu sayang? Makanannya gak enak yaa? Kok di muntahin?” tanya Vino sambil membelai kepalaku. Aku yang masih rebahan memandangnya lalu tersenyum “engga’ no.. makanannya enak banget, aku jugga gak tau, tadi aku makan tau-tau perutku perih banget, akhirnya aku muntah. Gak tau kenapa, sakit rasanya” ucapku masih terdengar lemah. “iya udah besok pagi aku anterin kamu ke Dokter ya? Kamu sekarang istirahat dulu. Ini ada bubur, kak Nessa bikin banyak tadi jadi ini masih ada sisa. Masukin makanan dikit-dikit biar gak makin parah” jelas Vino benar-benar dengan tutur kata yang lembut. “Sha.. sudah agak baikan?” tanya kak Nessa yang datang dengan wajah khawatir dengan secangkir capuchino di tangannya. “sudah kok kak J” ucapku namun lagi-lagi masih terdengar lemah. “yaudah deh kak, aku pulang dulu yaa? Kalo ada apa-apa langsung telfon aku aja kak. Meskipun tengah malem aku jugga bakal dengan senang hati bantuin kakak” pamit Vino pada kak Nessa setelah meneguk habis cappuchinonya. “iya deh, udah malem no.. hati-hati loh yaa.. makasih banyak ya no..” jawab kak Nessa seraya menyalami Vino. “yaudah kak, aku titip Bidadariku yang cantik ini ya?” ucap Vino tersenyum “Get well soon, sayang.. maaf ya gak bisa lama-lama nemenin kamu gak enak ada cowok di rumah cewek secantik kamu dan kak Nessa, apa kata tetangga.. hehe” ucapnya seraya mencium keningku. “iya hati-hati yaa..” jawabku singkat. Aku pun melihat punggung tegap dan terlihat nyaman itu hilang begitu saja, “ciee.. yang baru balikan.. tapi kok malah sakit, harusnya kan jadi sembuh sha..” ucap kak Nessa menggodaku. Malam itu kak Nessa menemaniku mengobrol dan aku memakan bubur itu sedikit demi sedikit. Namun tetap saja keluar dan perutku benar-benar belum terisi apa-apa sejak pagi tadi. Aku benar-benar merasa lemah. Malam itu juga aku meminta maaf dan berterimakasih pada kak Nessa berkali-kali. Aku merasa kasihan dan sungkan pada kak Nessa. Setelah pagi kerja, sore dia berangkat kuliah dan juga harus merawatku. Dia pasti benar-benar lelah. Tubuhku semakin lemah dan aku gak tau harus berbuat apa supaya meringankan beban kak Nessa *to be a continue*

Minggu, 10 Juni 2012

★ Part 11


“Kita jadi ke mana shaa?” tanya Vino memecah keheningan. “lhoo kok tanya aku? Kan kamu yang ngajakin aku keluar?” jawabku sambil tersenyum. “yaudah dehh.. kalo gitu terserah aku yaa?? Gak boleh protes!!” ucapnya menggodaku. Kita pun sampai di tujuan. Aku melihat sekeliling, sebuah café yang cukup elit. “hmm, kenapa shaa? Gak suka tempatnya…?” tanya Vino. “umm, gak kok noo, aku suka.. suka banget malah, Cuma…..” ucapku berhenti saat melihat sekitar sekali lagi. “Cuma apa? Shaa bilang ajja, aku pengen kamu nyaman, jadi kalo emg kamu gk suka mending kita pindah ajja?” ucap Vino, “cuman… gelap… hehhehe..” jawabku membuat Vino ikut tersenyum. “udah tenang ajja, aku gak bakal aneh-aneh kok.. aku gak kayak dulu kok shaa J” jawabnya sekali lagi dengan tenang, benar-benar membuatku jatuh cinta untuk sekian kalinya pada orang yang sama. Malam itu kita ngobrol banyak dank arena kita ada di tempat yang cukup gelap, bintang di langit terlihat begitu jelas. Berkelap kelip dengan indahnya seolah tersenyum pada kita. “Sha…” ucap Vino kali ini dengan memegang tanganku. “i… iya no??” ucapku gugup sambil melihat ke arah samar-samar bayangan wajahnya. “Tau gak, kenapa aku ajakin kamu ke sini??” lanjutnya seraya menatapku dalam-dalam. “kenapa?” jawabku singkat karena aku benar-benar gugup saat itu. “biar kamu tau, cinta aku ke kamu itu kayak bintang di langit.. indah, dan tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.. meski terlihat beberapa saat kita hitung baru kita tau kalo di langit gak cuman ada beberapa bintang, tapi banyak banget.. kayak kamu sha.. mungkhn kamu ngelihat sikapku tingkahku selama ini, kamu gak bakal ngerti gimana rasaku ke kamu.. tapi suatu saat kamu bakal ngerti kalo cintaku ke kamu gak terhitung.. sama kayak bintang-bintang di langit” jelasnya sambil tetap memegang tanganku. “maksudnya?” ucapku polos karena memang otakku gak bisa mencerna jelasnya yang panjang lebar dan berbelit-belit itu. “haha.. dasar sasha, gak berubah ajja.. udah lupain ajjah!” ucap Vino sambil tertawa dan melepas genggaman tangannya, lalu mengacak-acak rambutku. “iiihh, Vino.. kok gitu sih?!! Yaudah deeh, pulang aja yuk kalo gini ceritanya” payah banget batinku, Vino sih gak tau berapa jam aku dan Rena menyisir rambutku sebelumnya. “iya deeh iyaa.. sini aku bisikin..” ucap Vino sambil mendekatkan mulutnya di telingaku. “sasha, bintangku.. alangkah bahagianya jika bintang itu ada di genggamanku, menjadi milikku.. sekarang, nanti, dan selamanyaa..” ucap Vino dalam bisiknya. Aku tertegun memandangnya. Tak terasa mataku berkaca-kaca dan tanganku menjadi dingin gemetaran. Vino mendekatkan lagi wajahnya padaku “sasha.. maafin Vino yang terlalu munafik untuk bilang sayang sama Sasha yaa .. Sasha mau kan maafin vino? Sasha mau kan balik sama Vino? Jadi pacar Vino lagi?” bisiknya lembut di telingaku. Jantungku berdegup kencang, lagi-lagi aku memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca dan aku gak tau harus bilang apa.. “shaa? Kok bengong? Mau kan?” ucapnya mengagetkanku. “mau.. mau banget no!!” jawabku tanpa ragu. “makasih banget sha… makasih banyak…” ucap Vino menggenggam tanganku lebih erat dari sebelumnya. “mm.. harusnya aku yang makasih no.. makasih udah rasain hal yang sama sama aku.. makasih kamu berani ungkapin semua yang gak pernah berani untuk aku ungkapin ke kamu..” jawabku  sambil menatap wajahnya dan tersenyum lebar. Vino tersipu dan menundukkan kepalanya, dia tersenyum. Aku mendekatkan wajahku dan mencium pipinya. Dengan cepat dia menoleh ke arahku, dengan pandangan yang membuat aku tidak mengerti, ekspresi apa itu? o.O membuatku semakin gugup. Atau jangan jangan… dia mau cium aku jugaa?? Aaaa tidaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk >< kesalahan banget! Sasha bodoh! “makasih banget shaa… kali ini aku bener-bener menghargain apapun yang kamu lakuin buat aku! Makasih banget shaa!” kata Vino dengan memeluk tubuh ku benar-benar eraatt. Aku hanya diam. Vino sudah berubah, dan aku lebih nyaman dengan Vino yang sekarang. Yang semula tubuhku tegang karena sempat kaget dengan tingkah Vino yang tiba-tiba itu, aku mulai melemaskan tubuhku dalam pelukan Vino, aku membenamkan wajahku dalam pelukannya. Aku mencium aroma tubuhnya yang khas. “Aku sayang banget sama kamu no.. jangan pernah tinggalin aku lagi ya?” ucapku pelan. Vino hanya diam, menganggukkan kepalanya dan mempererat pelukannya. *to be a continue*
Pink Transparent Star