Selasa, 29 Mei 2012

★ Part 5


“kamu udah sadar shaa? Kamu baik baik aja kan?” aku membuka mataku namun mataku masih berkunang-kunang, suara itu berat dan rasanya sudah akrab di telingaku. Aku merasakan sentuhan hangat di tanganku, ada yang menggenggam tanganku. “shaa? Ini aku..” ucap lelaki itu. Hah itu Vino, dan aku melihat Rena duduk di samping ranjangku sambil menggenggam tanganku. “ini dimana?” ucapku sambil mengangkat tubuhku agar berposisi duduk menyandar tembok. “eitt eitt, udah kamu rebahan aja shaa.. kita di UKS” ucap Vino. “kamu kenapa sih shaa? Kamu sakit? Kok gak bilang sama aku? Kan aku tadi gak perlu ke kantin temenin kamu ajaa..” ucap Rena yang terlihat benar-benar khawatir. “gapapa kok Ren, umm.. no, bisa minta tolong gak?” ucapku pelan membuat suaraku terdengar begitu lemah. “iya shaa?” jawab sekaligus tanya Vino. “bisa tinggalin aku sama Rena bentar gak?” ucapku sambil tersenyum untuk meyakinkanya bahwa aku baik-baik saja. Vino pun hanya mengangguk dan meninggalkan ruang UKS. “kamu kenapa shaa? Padahal aku mau kasih kabar gembira buat kamu? Ehh kamunya sakit gini, bikin aku ikut pusing aja” ucap Rena. Sambil tetap menggengam tanganku. “iya Ren, aku tau kok kabar gembiranya, selamat yaa.. yang langgeng ya sama Vino” ucapku sambil berusaha tersenyum dengan mataku yang mulai berkaca-kaca. “loohh? Kok gitu sih shaa? Bukan itu yang aku maksud, tadi aku di kantin ketemu Vino, terus kitaa..” belum selesai dia menjelaskan aku memotong ucapannya “iyaa sudahlahh gak usah di ceritain, aku liat kok saat-saat itu, selamat ya Ren..” jawabku kali ini benar-benar meneteskan air mata. “bukan gitu shaa..” kali ini aku benar-benar malas mendengar ucapanya hanya membuatku semakin sakit hati, dan aku memotong lagi penjelasannya “iyaa udahlah, aku udah tau kok ren.. sekarang kamu bisa tinggalin aku sendiri kan? Aku pengen istirahat aku juga masih pengen sendiri, badanku bener-bener gak enak” ucapku seraya berbaring lagi menarik selimut dan berbalik menghadap tembok membelakangi Rena “shaa.. kamu salah paham..” ucapnya kini tangannya yang menggenggamku terasa gemetaran. Aku melepaskannya dengan kasar, entah kenapa hatiku rasanya sakit sekali, air mataku semakin deras dan aku berteriak “KELUAARR!!!!”. Terdengar isak Rena mengiringi langkahnya, ternyata dia juga menangis. Dia pun meninggalkanku sendiri, aku menangis sambil berusaha mengerti kejadian yang baru saja terjadi. Begitu sakit rasanya, siapa sekarang yang aku punya kalau ternyata sahabatku sendiri sebenarnya adalah seorang PENKHIANAT!. *to be a continue*

0 komentar:

Posting Komentar

Pink Transparent Star