“kamu udah sadar shaa? Kamu baik
baik aja kan?” aku membuka mataku namun mataku masih berkunang-kunang, suara
itu berat dan rasanya sudah akrab di telingaku. Aku merasakan sentuhan hangat
di tanganku, ada yang menggenggam tanganku. “shaa? Ini aku..” ucap lelaki itu.
Hah itu Vino, dan aku melihat Rena duduk di samping ranjangku sambil
menggenggam tanganku. “ini dimana?” ucapku sambil mengangkat tubuhku agar
berposisi duduk menyandar tembok. “eitt eitt, udah kamu rebahan aja shaa.. kita
di UKS” ucap Vino. “kamu kenapa sih shaa? Kamu sakit? Kok gak bilang sama aku?
Kan aku tadi gak perlu ke kantin temenin kamu ajaa..” ucap Rena yang terlihat
benar-benar khawatir. “gapapa kok Ren, umm.. no, bisa minta tolong gak?” ucapku
pelan membuat suaraku terdengar begitu lemah. “iya shaa?” jawab sekaligus tanya
Vino. “bisa tinggalin aku sama Rena bentar gak?” ucapku sambil tersenyum untuk
meyakinkanya bahwa aku baik-baik saja. Vino pun hanya mengangguk dan
meninggalkan ruang UKS. “kamu kenapa shaa? Padahal aku mau kasih kabar gembira
buat kamu? Ehh kamunya sakit gini, bikin aku ikut pusing aja” ucap Rena. Sambil
tetap menggengam tanganku. “iya Ren, aku tau kok kabar gembiranya, selamat
yaa.. yang langgeng ya sama Vino” ucapku sambil berusaha tersenyum dengan
mataku yang mulai berkaca-kaca. “loohh? Kok gitu sih shaa? Bukan itu yang aku
maksud, tadi aku di kantin ketemu Vino, terus kitaa..” belum selesai dia
menjelaskan aku memotong ucapannya “iyaa sudahlahh gak usah di ceritain, aku
liat kok saat-saat itu, selamat ya Ren..” jawabku kali ini benar-benar
meneteskan air mata. “bukan gitu shaa..” kali ini aku benar-benar malas mendengar
ucapanya hanya membuatku semakin sakit hati, dan aku memotong lagi
penjelasannya “iyaa udahlah, aku udah tau kok ren.. sekarang kamu bisa
tinggalin aku sendiri kan? Aku pengen istirahat aku juga masih pengen sendiri,
badanku bener-bener gak enak” ucapku seraya berbaring lagi menarik selimut dan
berbalik menghadap tembok membelakangi Rena “shaa.. kamu salah paham..” ucapnya
kini tangannya yang menggenggamku terasa gemetaran. Aku melepaskannya dengan
kasar, entah kenapa hatiku rasanya sakit sekali, air mataku semakin deras dan
aku berteriak “KELUAARR!!!!”. Terdengar isak Rena mengiringi langkahnya,
ternyata dia juga menangis. Dia pun meninggalkanku sendiri, aku menangis sambil
berusaha mengerti kejadian yang baru saja terjadi. Begitu sakit rasanya, siapa
sekarang yang aku punya kalau ternyata sahabatku sendiri sebenarnya adalah
seorang PENKHIANAT!. *to be a continue*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar