“aku gak percaya kamu bisa
ngelakuin itu di depanku, no” ucapku pada Vino setelah aku mengantar minum.
“maafin aku sayang, aku cuma gak suka liat kamu deket sama dia, dia itu gak
baik buat kamu!” ucap Vino sambil menatapku dalam-dalam. “apa maksudnya gak
baik buat aku? Selama ini dia baik sama aku, sedangkan Alda? Apa menurut kamu
dia baik buat kamu?” aku membentak pada Vino. Dia hanya terdiam dan diam, entah
apa yang sedang dipikirkannya. “Sha, aku numpang ke kamar mandi ya” Sahut Ebbi.
“iya bii,” jawabku seraya memberikan senyum padanya. “ehm, yaudah aku pulang
dulu ya sha, rena, dim, bii.. “ ucapnya sambil mengambil kunci motornya di meja
ruang tamu. Rena dan Dimas hanya diam dan melihatnya, Ebbi hanya mengangguk
lalu menuju kamar mandi. Aku mengantar Vino sampai ke depan pagar. “maaf ya
bii, aku bikin kamu kayak gini” ucapku pelan. “gak papah sha” jawabnya singkat.
Apa? Sha? Tumben banget biasanya tiap aku panggil dia ‘bebii’ pasti dia juga
balas panggi ‘bebii’. “aku nggak ada apa apa sama Ebbi,no.. aku jugga gak ada
maksud apa-apa! Percaya sama aku” ucapku seraya menarik lengannya, “gak ada
apa-apa? Kamu bilang gak ada apa-apa? Dia selalu dateng ke rumahmu? Tiap kamu
lihat dia? senyummu?? Dan satu lagi, yang paling aku gak suka tiap kamu sama
dia, kamu selalu mikir yang macem-macem tentang Alda!!” sentaknya. “maaf..” aku
menundukkan kepala. “udahlah, mending kita tenangin diri kita dulu sha.. kita
nggak usah ketemu untuk beberapa hari ini.. aku pingin kita lebih dewasa lagi..”
Vino pun berlalu dengan motornya. Aku menatap punggungnya semakin jauh semakin
jauh… “bahkan dia nggak ngucapin salam..” keluhku, “Vino bener sha, tenangin
diri kalian dulu” aku membalikkan badan, “Rena..” aku memeluknya. “kenapa aku
lemah banget kalo di depan Vino? Aku nggak bisa ungkapin semua yang pengen aku
ungkapin ren.. aku cemburu banget kalo dia sama si rok mini itu renn..”
akhirnya air mataku jatuh juga. “sabar sha.. mungkin bener Vino. Manfaatin
beberapa hari ini buat intropeksi diri sha..” ucapnya sambil menepuk-nepuk
punggungku. Entah kenapa tiap aku memeluk Rena aku merasa tenang.
Kitapun masuk, kita nonton film
makan cemilan dan bercanda. Berusaha melupakan yang baru saja terjadi. “haha
konyol banget tau gak!” teriak Rena sambil tertawa. “hahaha, dia mirip banget
sama kamu Ren! Hahaa dekil!” ucap Ebbi sambil menunjuk-nunjuk ke arah Rena dan
tertawa. “hahaha gak segitunya kalikk bii..” ucapku membela Rena.
Drrttt ddrrrtt. Mendengar handphoneku
bergetar serentak Ebbi dan Rena melihat ke arahku. Nomor asing, aku pun
membukanya.
From: +6281678123***
JAUHIN VINO! KAMU GAK PANTES BUAT DIA! `a’
JAUHIN VINO! KAMU GAK PANTES BUAT DIA! `a’
Mendadak mood-ku hilang seketika. Inisial `a’ Siapa lagi
kalo bukan Alda rok mini itu? >.<* . “siapa sha?” tanya Rena. “bukan
siapa-siapa, nih orang gak jelas, salah kirim kayaknya.. hehe, ayok kita nonton
film yang lain!” ucapku bersemangat seolah tak ada yang terjadi. Aku cuma gak
mau lebih merepotkan Rena lagi, aku pingin menyelesaikan masalah ku sendiri. Karna
aku yang jalani semua ini bukan Rena, bukan Ebbi.
ooOoo
Disekolah. “Sha, ke kantin yuk..” ajak Rena seraya menarik
tanganku. “yukk..” aku segera berdiri dan, Drrtt drrrrt… Handphoneku bergetar, aku
berhenti melangkahkan kakiku. Aku membuka handphone-ku, dan ternyata… sms dari
no asing itu lagii u.u
From: +6281678123***
HARUSNYA KAMU TAU DIRI SHA! KAMU GAK PANTES BUAT DIA! `a’
HARUSNYA KAMU TAU DIRI SHA! KAMU GAK PANTES BUAT DIA! `a’
“Siapa sha?” tanya Rena sambil mengintip layar handphone-ku,
tapi aku segera menutupnya. “orang salah kirim lagi, gak penting” ucapku
langsung menarik Rena. “tunggu.. Ebbi..?” tanya Rena. “oh iya!!” ya ampuunn
gara-gara sms dari si rok mini itu
bisa-bisanya aku lupa sama Ebbi. Aku menarik Ebbi jugga. Kita pun segera
memesan makanan di kantin, dan kita segera melahapnya. “eh kalian tau gak,
Dimas minggu depan balik ke Malaysia :’(“ ucap Rena sambil manyun, “yang bener?
:o LDR.an dong nih?” tanyaku membuat Ebbi menahan tawa. “apaan sih bii, malah
ketawa” jawab Rena makin manyun. “haha abisnya kamu lucu banget Ren, toh dia
minggu depan balik kesana kan mau perpisahan :D dia cuman 2 minggu di sana,
terus dia sekolah di sini Ren.. kamu lupa Dimas di pegangin restaurant di sini
sama mamahnya?” ucap Ebbi. “ihh iya yaa.. kamu gak bilang sih bi, aku kan
lupa.. lagian kan dimas..” belum selesai bicara Ebbi menyumpal mulut Rena dengan
tempe goreng di depannya, membuat Rena susah bicara dan mengeluarkan suara
aneh. “hahaha, ebii jahat banget sih!” ucapku sambil menyodorkan minum pada
Rena. “haha abis jadi cewek bawel banget..” ucap Ebbi. “Ren, anterin ke toilet
yukk?” ucapku memohon. “iya bentar ya sha, ni masih belum habis..” ucapnya
sambil menunjuk ke nasi campur di piringnya. “aduuh masih banyak, udah di pucuk
nih…” ucapku memohon, “terus mau gimana shaa? Udah kamu duluan ajja, aku nyusul”
ucap Rena dengan mulut penuh. “hihi oke oke, habisin dulu tuh makanan di mulut,
baru ngomong.. daa Ebbi, daa Rena..“ jawabku seraya meninggalkan mereka.
Aku membuka pintu toilet, ternyata masih penuh. Aku mencuci tanganku di washtaffle,
aku berkaca dan menyisir rambutku, klik.. suara kunci pintu di buka, aku
membalikkan badan dan “alda..” ucapku Alda keluar dari kabin toilet itu dengan
memandangku dalam-dalam. Aku mulai bingung, tiba-tiba dia tersenyum padaku. Itu
benar-benar membuatku takut, aku segera masuk dan menutup pintu. Aku mendengar
langkah kakinya, sepertinya dia sudah pergi. Aku-pun ‘memenuhi kebutuhanku’. Dan
aku keluar, klik.. klikk.. pintunya terkunci! “Hei! Tolong!!” ucapku, tapi
sepertinya di toilet sudah tidak ada orang lagi. “heiii!! Tolong dong!!! Aku kekancingan
nih!!” aku coba lagi berteriak. Dan hasilnya sia-sia, bel masuk berbunyi dan di
sekitar toilet mulai sepi, gak mungkin ada yang bisa denger suaraku. Aku membuka
handphone, tidak ada sinyal sama sekali! “Tuhaan,” keluhku. Aku memanjat dan
aku naik di kloset mungkin dengan itu aku bisa mendapat cukup sinyal untuk sms
ke Rena .
Failed.. Aku mengocok-ngocok handphone-ku
Failed.. Aku mengocok-ngocok handphone-ku
Failed.. Aku lambai-lambaikan di atas udara
Failed.. Aku menjinjit dan melambai-lambaikan lagi
Sent!
“fyuuhh.. akhirnya…” . Aku pun segera turun dari kloset, tapi
sayangnya pijakan kakiku meleset. Dan,
BRAAAKK!! “aaaww!!” aku terjatuh, kepalaku tertatap gagang pintu keras sekali. Aku menggosok-gosoknya, dan
hah? Darah ! kepalaku berdarah!! Aku bener-bener takut liat darah!! >.<*.
*to be a continue*

