Seharian ini Vino dan Rena
menemaniku di rumah. Hari mulai gelap dan kita sholat maghrib berjamaah. Vino
yang menjadi imam. Suaranya begitu merdu dan membuatku semakin jatuh cinta
padanya. Selesai sholat, kita makan malam bersama. Kak Nessa yang sudah
menyiapkannya sekarang sudah meluncur lagi, dia pergi dengan kak Indra. Saat
ini kak Nessa sering banget keluar dengan kak Indra, mungkin mereka sudah
jadian. Hihihi. Memikirkan hal itu membuatku cekikikan sendiri. “kenapa shaa?”
tanya Rena yang mau melahap nasi di sendoknya terhenti melihat tingkahku.
“gapapa ren, hhi seneng ajja hari ini :D” ucapku sambil meringis. Aku melahap
suapan terakhir dan aku menuangkan air putih di gelasku , di gelas Rena lalu
berikutnya gelas milik Vino “makasih sayang,” ucap Vino seraya tersenyum tulus
padaku. Dia meneguk habis air itu. “Rena.. buruan, ayo ke taman .. kita lihat
bintang yuk? Langitnya cerah banget ini” ucap Vino membuat Rena melahap suapan
terakhirnya dengan tergesa-gesa. Renapun segera meneguk air putihnya dan
menarik tanganku dan Vino menuju taman belakang. “loh kok jadi kamu yang paling
semangat Ren? Kan aku yang pengen banget liat bintang sama kalian ?” ucapku
pada Rena, “oh iya tunggu ..” Rena berlari masuk. Aku dan Vino bertatapan lalu
kita tertawa. “haha kenapa dia?” ucap Vino menahan tawa. Aku hanya mengangkat
bahu. “ini diaa!!!” teriak Rena dari dalam rumah dan berlari ke arah taman. “sasha
harus tulis di sini apapun yang sasha rasain, yang sasha gak bisa ungkapin :D
ini kan udah jadi punya kamu sha.. bukan kita lagi J” ucap rena sambil menyodorkan
diary kelip bintang-ku. Mereka berduapun asyik melihat bintang Rena duduk di
bangku taman yang sama denganku, dan Vino duduk di ayunan menyandarkan tubuhnya
dan mendongakkan kepalanya sehingga dia
bisa melihat bintang sambil berayun-ayun. Akupun mulai menggoreskan penaku.
May 14th Dear Diary,
“Now I'm here, blinking in the
starlight.. Now I'm here, suddenly I see.. Standing here, it's all so clear…I'm
where I'm meant to be”
Kalau ada yang bertanya padaku
kapankah saat paling bahagia dalam hidupku, itu adalah ketika aku menjadi aku,
menjadi Sasha yang sebenarnya, yang mempunyai ayah dan ibu yang sangat baik
seperti Mama dan Papa, yang mempunyai kakak sebaik kak Nessa, yang mempunyai
sahabat sebaik Rena. Dan mempunyai pacar yang tulus menerima aku apa adanya,
Vino. Entah apa yang terjadi jika tidak ada mereka, mungkin aku nggak akan
punya karakter selembut ini, mungkin aku nggak sesabar ini, dan mungkin aku
nggak setegar ini. Aku pernah membaca buku dongeng, saat kita memohon dengan
tulus dan sungguh sunggu pada Bintang permohonan kita akan di kabulkan J dan kini aku mohon.
BINTANG, aku yakin kamu juga
tau… apa yang aku rasa saat ini, aku ingin mreka tau aku bener2 sayang sama
mereka.. dan, satu yang aku ingin AKU GAK INGIN KEHILANGAN MEREKA.. selamanyaaaaa,
please.. please.. please.. u,u
Aku menutup buku itu, aku menatap
bintang-bintang di langit. Kerlap kerlip mereka, seolah tersenyum padaku. “Sha..”
ucap Vino yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Aku menoleh ke kiri, Rena
masih asyik menatap bintang di langit entah apa yang ada di pikirannya. “iya
no?” jawabku seraya menoleh ke arahnya. “mulai sekarang, kalo ada apa-apa kamu
bilang aja.. jangan anggep aku orang asing.. aku gak pengen cuma jadi pacarmu,
aku pengen jadi pacar yang bisa jadi orang tua, kakak, adik, n sahabatmu J” ucap Vino
memandangku. Aku menatap Vino dalam-dalam, matanya yang tajam dan
berbinar-binar begitu indah. Tangannya naik turun di punda kiri-ku, tangannya
melingkar di pundakku, dia memelukku, aku menyandarkan kepalaku di pundaknya
dan mata kita menerawang langit malam yang bertabur bintang. "Vino..”
ucapku lirih sambil tetap pada posisi yang sama. “hmm..” jawabnya singkat. “I love
you so much” lanjutku melihat bayangan hidungnya yang mancung. “I love you
more..” jawabnya seraya mengecup keningku. Aku memandang bintang paling terang,
hatiku berdebar dan seolah berkata pada bintang itu ♥ please.. please..
please.. *to be a continue*


0 komentar:
Posting Komentar