Kamis, 21 Juni 2012

★ Part 14


“mamah!! Kak Nessa jahat bangett!! Bunga-bunga rangkaianku dihancurin semua maah!!” teriakku sambil menangis dan berlari kea rah Mama. “Yeee !!! Kakak gak sengaja tau!!! Kalo sasha gak naruh keranjangnya disitu kakak juga gak bakal jatoh terus rangkaian bunganya kakak hancurin! Nih lihat kaki kakak jadi lecet gara gara kamu!!” bentak kak Nessa sambil menahan sakit. “Sudah-sudah.. kakak kan gak sengaja sayang.. jangan nangis dong, masak princess kecil mama yang cantik ini cengeng sihh..” ucap mama sambil memeluk dan membelai rambutku. Pelukan mama saat itu benar-benar membuat ku merasa tenang, membuat aku begitu nyaman. “iya, sini sayang.. Sasha kan juga masih kecil, gak sengaja.. Kakak jangan marah yaa..” ucap papah sambil mengobati luka kak Nessa. “Sekarang maafan dulu ya, mama gak suka kalo ada tengkar-tengkar sama sodara sendiri, masak kalah sama binatang? Binatang ajja bisa akur sama sesamanya? Ayo.. maaf-maafan..” ucap mama sambil mendekatkan ku dengan kak Nessa. Aku menghapus air mataku dan mengulurkan tanganku. “Gak Mau!! Sakit tau sasha bikin kakak jatoh gini!! Peerih!!” ucap kak Nessa ngambek sambil melipat tangannya di depan dada dan membuang muka. “ihh.. princess papa kok gitu sih? Princess yang baik itu kan harus saling memaafkan” ucap papa sambil memeluk kak Nessa dari belakang. “maafin sasha ya kak..” ucapku seraya mengulurkan tanganku lagi. Kak Nessa pun masih berpikir-pikir. “hayoo.. siapa yang mau cookies bikinan eyang? :D” sahut eyang dari pintu ruang tamu sambil membawa piring berisi kue panggang bikinan eyang. Aku gak pernah melupakan rasa dan aroma kue panggang paling lezat di dunia  buatan eyang ini J. “akuu akuu!!” aku dan kak Nessa berlari dan berebut, tapi eyang menaikkan tanggannya sehingga piring itu tak bisa kita jangkau. “tapi ada syaratnya… kalian harus janji sama eyang.. kalian harus salinf memaafkan dan harus saling rukun, gak boleh tengkar-tengkar lagi..” ucap nenek sambil jari telunjuk di tangan kanannya mengayun-ayun kesana kemari di depan ku dan kak Nessa bergantian. Kak Nessa langsung saja mengulurkan tangannya dan aku segera menyambut jabatannya. Kak Nessa memelukku erat-erat dan itu sudah pasti akan kita lakukan setelah kita bertengkar. Bagiku dan Kak Nessa apapun akan kita lakukan demi kue panggang bikinan eyang yang super duper nikmat aroma dan rasanya itu. “itu baru cucu eyang..” ucap eyang sambil merendahkan badannya dan menyodorkan piring kue panggang itu, aku dan kak Nessa langsung saja menyahut kue panggang itu, “makasih eyaaang..” ucapku dan kak Nessa, aku dan kak Nessa memeluk eyang erat erat, aroma vanilla dan coco powder yang begitu melekat di celemek eyang. Masih jelas teringat di kepalaku dan aku masih bisa mengingat aromanya di tenggorokkanku. Aku melihat mama dan papa yang sedang membereskan mainan kita di taman, dan mereka tersenyum pada nenek. Senyuman hangat itu.. aku benar-benar merindukannya. Tak terasa aku bercerita sambil meneteskan airmata, kulihat Rena sudah tertidur di samping ranjangku. Dia duduk di kursi lipat dan kepalanya bersandar di ranjangku. Mengusap keningnya, pasti dia sangat capek. Sepulang sekolah dia harus langsung ke rumah sakit untuk aku, untuk menemaniku. Aku menggapai handphone ku di meja lampu sebelahku. Aku membuka contact dan aku mencari nomor mama. Namun aku ragu untuk menelpon mama, aku takut mama sedang bertemu kliennya atau sedang meeting dengan atasannya.  Aku takut mama sibuk. Tanpa sengaja karena cukup lama aku berfikir, lampu pada layar handphoneku mulai redup dan beberapa detik kemudian mati, aku tetap memandang layar itu. Tanpa sengaja aku melihat bayanganku sendiri. Sosok gadis yang begitu kurus, mata cekung, pipi kempong, dan wajah pucat pasi. “jelek sekali wajahku?” ucapku pelan. Aku menggapai sisir, aku melepas ikatan rambutku dan menyisir nya. Banyak banget rambut rontok yang tertinggal di sisirku. Terlalu sering di kuncir, dan yah sudah berapa minggu aku dan Rena tidak pergi ke salon untuk melakukan perawatan. Aku mengembalikan sisir dan handphone-ku ke tempat semula. Namun tiba-tiba kepalaku seperti dipijat pijat keras, terasa berputar-putar dan perutku seperti di aduk aduk dengan mixer adonan milik eyang. Tenggorokanku sesak dan aku memuntahkan mengeluarkan semua isi perutku. “sashaa???” aku masih lemah dan mataku berkunang, aku memandang kearah Rena. Rena terbangun dari tidurnya karena suara aneh yang aku keluarkan itu. *to be a continue*

0 komentar:

Posting Komentar

Pink Transparent Star