“mamah!! Kak Nessa jahat
bangett!! Bunga-bunga rangkaianku dihancurin semua maah!!” teriakku sambil
menangis dan berlari kea rah Mama. “Yeee !!! Kakak gak sengaja tau!!! Kalo
sasha gak naruh keranjangnya disitu kakak juga gak bakal jatoh terus rangkaian
bunganya kakak hancurin! Nih lihat kaki kakak jadi lecet gara gara kamu!!”
bentak kak Nessa sambil menahan sakit. “Sudah-sudah.. kakak kan gak sengaja
sayang.. jangan nangis dong, masak princess kecil mama yang cantik ini cengeng
sihh..” ucap mama sambil memeluk dan membelai rambutku. Pelukan mama saat itu
benar-benar membuat ku merasa tenang, membuat aku begitu nyaman. “iya, sini
sayang.. Sasha kan juga masih kecil, gak sengaja.. Kakak jangan marah yaa..”
ucap papah sambil mengobati luka kak Nessa. “Sekarang maafan dulu ya, mama gak
suka kalo ada tengkar-tengkar sama sodara sendiri, masak kalah sama binatang?
Binatang ajja bisa akur sama sesamanya? Ayo.. maaf-maafan..” ucap mama sambil
mendekatkan ku dengan kak Nessa. Aku menghapus air mataku dan mengulurkan
tanganku. “Gak Mau!! Sakit tau sasha bikin kakak jatoh gini!! Peerih!!” ucap
kak Nessa ngambek sambil melipat tangannya di depan dada dan membuang muka.
“ihh.. princess papa kok gitu sih? Princess yang baik itu kan harus saling
memaafkan” ucap papa sambil memeluk kak Nessa dari belakang. “maafin sasha ya
kak..” ucapku seraya mengulurkan tanganku lagi. Kak Nessa pun masih
berpikir-pikir. “hayoo.. siapa yang mau cookies bikinan eyang? :D” sahut eyang
dari pintu ruang tamu sambil membawa piring berisi kue panggang bikinan eyang.
Aku gak pernah melupakan rasa dan aroma kue panggang paling lezat di dunia buatan eyang ini J. “akuu akuu!!” aku dan kak
Nessa berlari dan berebut, tapi eyang menaikkan tanggannya sehingga piring itu
tak bisa kita jangkau. “tapi ada syaratnya… kalian harus janji sama eyang..
kalian harus salinf memaafkan dan harus saling rukun, gak boleh tengkar-tengkar
lagi..” ucap nenek sambil jari telunjuk di tangan kanannya mengayun-ayun kesana
kemari di depan ku dan kak Nessa bergantian. Kak Nessa langsung saja
mengulurkan tangannya dan aku segera menyambut jabatannya. Kak Nessa memelukku
erat-erat dan itu sudah pasti akan kita lakukan setelah kita bertengkar. Bagiku
dan Kak Nessa apapun akan kita lakukan demi kue panggang bikinan eyang yang
super duper nikmat aroma dan rasanya itu. “itu baru cucu eyang..” ucap eyang
sambil merendahkan badannya dan menyodorkan piring kue panggang itu, aku dan
kak Nessa langsung saja menyahut kue panggang itu, “makasih eyaaang..” ucapku
dan kak Nessa, aku dan kak Nessa memeluk eyang erat erat, aroma vanilla dan
coco powder yang begitu melekat di celemek eyang. Masih jelas teringat di
kepalaku dan aku masih bisa mengingat aromanya di tenggorokkanku. Aku melihat
mama dan papa yang sedang membereskan mainan kita di taman, dan mereka
tersenyum pada nenek. Senyuman hangat itu.. aku benar-benar merindukannya. Tak
terasa aku bercerita sambil meneteskan airmata, kulihat Rena sudah tertidur di
samping ranjangku. Dia duduk di kursi lipat dan kepalanya bersandar di
ranjangku. Mengusap keningnya, pasti dia sangat capek. Sepulang sekolah dia
harus langsung ke rumah sakit untuk aku, untuk menemaniku. Aku menggapai
handphone ku di meja lampu sebelahku. Aku membuka contact dan aku mencari nomor
mama. Namun aku ragu untuk menelpon mama, aku takut mama sedang bertemu
kliennya atau sedang meeting dengan atasannya.
Aku takut mama sibuk. Tanpa sengaja karena cukup lama aku berfikir,
lampu pada layar handphoneku mulai redup dan beberapa detik kemudian mati, aku
tetap memandang layar itu. Tanpa sengaja aku melihat bayanganku sendiri. Sosok
gadis yang begitu kurus, mata cekung, pipi kempong, dan wajah pucat pasi.
“jelek sekali wajahku?” ucapku pelan. Aku menggapai sisir, aku melepas ikatan
rambutku dan menyisir nya. Banyak banget rambut rontok yang tertinggal di
sisirku. Terlalu sering di kuncir, dan yah sudah berapa minggu aku dan Rena
tidak pergi ke salon untuk melakukan perawatan. Aku mengembalikan sisir dan
handphone-ku ke tempat semula. Namun tiba-tiba kepalaku seperti dipijat pijat
keras, terasa berputar-putar dan perutku seperti di aduk aduk dengan mixer
adonan milik eyang. Tenggorokanku sesak dan aku memuntahkan mengeluarkan semua
isi perutku. “sashaa???” aku masih lemah dan mataku berkunang, aku memandang
kearah Rena. Rena terbangun dari tidurnya karena suara aneh yang aku keluarkan
itu. *to be a continue*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar