“hai sha…” sapa Rena dari
belakangku. “iya ren.. tumben niih seger banget, lagi seneng nih Rena nya..”
ucapku melihat yang hari ini kelihatan seneng banget. “kamu paling tau deh
sha.. kemarin, dimas sms aku .. aaaa seneng banget deh shaaa!!” teriak Rena
seraya meremas-remas lenganku. “ihh ya biasa ajja kalii non, gak usah
gemes-gemes gitu sakit tau..” ucapku sambil mencubit pipinya. “hehe ya map sha,
abis seneng banget >.<” ucap Rena masih cengar cengir. “emang Dimas sms
gimana ren?” jawabku penasaran, “cuman tanya kabar sih, tapi tumben banget dia sms
duluan.. iya gak? Aneh banget?” mimik wajah Rena berubah menjadi
bertanya-tanya. “kangen kali tuuhh..” ucapku menggoda. “ah kamu shaa..” malu
malu Rena menjawab, pipinya menjadi merah membuat wajahnya semakin lucu.
“hihihi lucu banget sih kamu Ren.. merah banget tuh mukamu, malu neeehh?”
ucapku menggoda lagi. “aaaa sashaaa!!” teriak Rena. “Sssssttt! Bisa diem nggak
sih kalian? Kalian gak belajar buat ulangan kimia nanti? Pagi-pagi sudah
ribut!” sahut Dilla teman sekelasku yang duduk tepat di samping kananku.
“hehehehe” kita kompak tertawa. Dilla hanya memutar bola matanyadan kembali
membaca modul Kimia yang benar-benar suram itu.
“Pak Benny datang pak Benny datang..” ucap
seorang teman sekelasku, anak-anak bergegas duduk di tempat duduk
masing-masing. Aku dan Rena segera menyiapkan buku pelajaran Kimia, siap
ataupun gak siap anak-anak harus melewati ulangan harian Kimia nanti. Aku dan
Rena diam dan melihat kearah pintu seolah menanti nasib kita, aku pun melihat
sosok pria separuh baya, perutnya buncit lengkap dengan botak di kepala bagian
depan, dan kumis tebal menghiasi wajahnya. Dia membawa buku paket dan map
berisi file-file pentingnya, di belakangnya terlihat anak cowok bertubuh tegap
berkulit putih dan, “Vinoo!!” sentakku pada Rena membuatnya kaget. Kita
menamatkan wajahnya, “bukan shaa.. dia bukan Vino, mirip banget!” ucap Rena
“huff.. ku kira..” ucapku melemaskan tubuhku. orang itu, aku gak pernah lihat
sebelumnya di sekolah ini. Style-nya, postur tubuhnya, wajahnya. Mirip banget
sama Vino, hanya yang membuat berbeda mata Vino lebih lebar dan berbinar-binar
sedangkan dia cenderung sipit dan pandangannya tajam. “ehm, sudah?!” ucap pak
Benny garang setelah menunggu cewek cewek yang pada jejeritan melihat anak itu,
ganteng sih. Tapi, memang ada ya yang lebih dari Vino? Vino SEMPURNA!. Ucapku
dalam hati membuatku menunggingkan senyum di bibirku. “anak-anak ini ada teman
baru kalian pindahan dari Sulawesi, tepatnya kota Manado silahkan perkenalkan
diri nak” ucap pak Benny yang lalu duduk di mejanya. “pagi teman-teman,
perkenalkan saya anak baru di sekolah ini, saya pindahan dari kota Manado,
kalian bisa panggil saya Ebbi” ucapnya sambil tersenyum manis pada teman-teman
sekelas. “haha ebii? Kayak cewek tuhh namanya? Haha” ucap salah seorang
temanku, anak anak seketika ribut dan tertawa terbahak-bahak. “pasti nama
panjangnya Ebbi Katsu ya??” ucapku spontan. Anak anak sekelas tertawa, Rena
mencubit pelan pundakku. “Febri Nugraha” ucapnya tersenyum padaku. “ya sudah,
Ebbi kamu duduk di belakang dia” ucap
pak Benny. “duduk sendiri pak?” tanyanya polos, “iyalah! Mau saya temani?!!”
ucap pak Benny garang. “hehe enggak deh pak makasih” ucapnya lalu buru buru
duduk di bangku kosong yang tepat berada di belakangku. “ya sudah saya beri
waktu kalian 10 menit untuk membaca ulang catatan dan modul kalian sebelum kita
mulai ulangannya” ucap pak Benny. Kita pun membaca buku dengan serius.
Tiba-tiba dari belakang Ebby mencolek pundakku. “yaa?” tanyaku “hai ebby
katsu..” ucapnya sambil cengar cengir gak jelas. Seraya membuatku dan Rena
terpingkal. “Rena?” tanyanya, aku dan Rena langsung bertatapan. “buu.. buuka..”
belum selesai bicara Rena menyahut “kenapa kamu bisa tahu aku?” ucapnya cepat.
“oh jadi kamu yang namanya Rena, salam kenal aku Ebbi” ucapnya sambil
menyulurkan tangan pada Rena, “Rena,” Rena membalas jabatannya. Ebbi tersenyum,
gimana bisa dia mirip banget sama Vino? Jangan jangan dia kembarannya? “Ebbi”
ucapnya lagi, kali ini dia tersenyum menatapku memperlihatkan giginya,
senyumnya, susunan gigi taring itu mirip banget sama Vino. “heii? Ebbi katsu?”
ucapnya membuyarkan lamunanku. “ohh,! Sasha! Hehe” ucapku salah tingkah.
“oooh.. Sasha…” ucapnya sambil tetap menggenggam tanganku. “ehm, ebbi gimana
bisa kamu tau aku?” ucap Rena membuat Ebbi melepaskan genggamannya. Aku pun
segera menaruh tanganku di bawah. “ohh itu… dari… Dimas” ucapnya ringan lalu
membuang muka dan membolak balik buku catatannya. “HAH?! DIMAS??!!” ucapku dan
Rena keras. “RENA! SASHA! DUDUK DI DEPAN!!!” bentak pak Benny “upss..”. *to be
a continue*

0 komentar:
Posting Komentar