Kamis, 21 Juni 2012

★ Part 15


Kak Nessa tetap terus memberi kabar pada mama dan papa di Malaysia tentang keadaanku. Akhirnya mama memutuskan untuk pulang. Dan hari ini juga mama dan papa pulang, papa hanya tertegun milpat tangannya di dada melihat keadaanku dengan mata yang terlihat begitu sedih. Mama terus saja menangis dan menciumiku, memelukku dan berkali-kali mengucapkan kata maaf. “maafin mama sayang, maafin mama.. mama terlalu sibuk dengan dunia mama sendiri sampek gak bisa ngurusin anak sendiri.. mama bener-bener keterlaluan, semenjak eyang meninggal mama gak pernah bisa berpikir sehat.. mama merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan eyang, waktu itu mama dan papa tidak punya cukup uang untuk mengobati eyang dan periksa ke dokter, hingga eyang meninggal, mama merasa bersalah banget.. mama pengen cari uang banyak sukses hidup sama papa, dan gak akan terjadi lagi hal yang sama.. tapi mama salah, mama gak pernah memperhatiin kamu sayang jadi kayak gini, kak Nessa juga gak mungkin bisa mengurus kamu seutuhnya kak Nessa juga kuliah dan bekerja punya kesibukan sendiri mama bikin kamu hidup sendiri, dengan umur yang masih sangat muda.. maafin mama sayang” mama terus menangis dan memeluk tubuh kurus keringku dan berulang kali menciumi pipi dan keningku. Aku memandang papa yang berada di depanku. Aku memandang lagi kea rah mama “ini bukan salah mama kok, lagian kalo mama dan papa gak sibuk kerja kayak sekarang aku dan kak Nessa jugga bakal gak bisa hidup, gak mungkin bisa sekolah tinggi kayak sekarang” ucapku menenangkan mama dan papa. “apa papa gak pengen meluk sasha? Sasha kangen banget sama papa..” ucapku yang masih terdengar lemah, mama melepaskan pelukanku dan membetulkan lengan bajuku yang melorot memperlihatkan pundaku yang kurus karena mendadak piyama piyamaku menjadi kebesaran. Papa menghampiriku dengan tanpa sepatah katapun, matanya merah dan dia memelukku dengan lembut. “maafin papa ya sayang, princess papa jadi seperti ini.. tetap cantik, namun terlihat jaaauuhh lebih kurus” kali ini papa meneteskan air matanya. Baru kali ini aku melihat wajah tampan papah berlinangan air mata, baru kusadari kedua superhero-ku ini sudah mulai memunculkan guratan guratan halus di dahi dan sekitar matanya mereka semakin tua. Sangat mustahil seorang pria bertubuh tinggi besar dengan postur tegap dan gagah ini menangis hanya karena aku. Sasha..
Seketika rasa marahku pada papa dan mama luntur begitu saja, aku menjadi tenang setelah mendapat pelukan dari mereka. Tiba-tiba lagu CANON terdengar , HP papa berdering cukup kencang membuat seisi kamar inapku tertuju pada papa. “oh, I’m so sorry Mister.. I’m in Indonesia know, my daughter was sick.. maybe tomorrow I’ll go to Singapura with my wife, ok.. I’m so sorry mister, ok.. ok.. sure.. thankyou..” tutt tutt. Papa mengakhiri panggilannya. Aku begitu sedih mendengar ucapan papa barusan. Besok papa dan mama akan pergi meninggalkanku lagi? Mereka akan pergi ke singapura? “Nessa..” panggil mama, kak Nessa pun mendekati mama. “Papa dan Mama berencana membawa sasha ke singapura, mama pingin kamu ikut.. ambil cuti kerjamu dan kuliahmu mama ijinkan.. mama dan papa sangat butuh bantuanmu. 2 bulan saja, mama takut mama dan papa terlalu sibuk dengan kerjaan dan mungkin sasha akan kesepian di sana..” ucap mama menjelaskan seraya membelai rambut panjang kak Nessa yang tergerai rapi. “aku ? berobat ke Singapura??” ucapku terbelalak, “iya sayang, disana penanganannya lebih baik dan cepat, papa dan mama pingin kamu cepat sembuh, agar tidak menderita gini..” ucap papa yang masih berada di dekatku. “tapi Rena??” ucapku masih saja memikirkan sahabat setiaku itu. “Rena sudah mama kabarin sayang, kata Rena apapun yang terbaik buat kamu dia rela lakuin..” ucap mama tersenyum lembut.
Keesokannya kitapun terbang ke Singapura, dengan infus yang masih tertancap di tanganku. Tubuhku masih begitu lemas sehingga papa harus menggendongku saat aku naik di kursi roda. Di Sini sangat berbeda jauh dengan Indonesa, orangnya begitu cekatan. Aku menjalani pengobatan beberapa terapi dalam 2 bulan ini, dan alhasil aku semakin membaik. Tubuhku mulai lebih segar dan berangsur mulai kembali seperti semua, perutku sudah bisa kemasukan makanan dan aku tak pernah memuntahkkaannya. Namun tetap saja terkadang perutku terasa begitu perih. 2 bulan lebih seminggu aku sudah sembuh dan aku boleh pulang. Minggu kedua aku habiskan waktuku di apartement mama dan papa karena mama masih khawatir dengan keadaanku. Pada hari Minggu aku dan kak Nessa terbang ke Indonesia dengan senang hati, kak Nessa pun melakukan kegiatannya rutin, namun untuk seminggu ini aku masih harus istirahat di rumah. Untuk seminggu ini di rumah terasa sangat membosankan, hal itu aku manfaatkan untuk mengejar pelajaran-pelajaran sekolahku yang benar-benar tertinggal jauh.
Drrtt.. handphoneku bergetar, ada 2 pesan masuk.
Shaa.. nanti aku ke rumah mu yaa ^^ jangan kemana-mana.. okee?
Form: Rena
17/06/2012 11:39:28
“hembh, ternyata rena…” ucapku pelan aku kira kak Nessa, karena aku benar-benar kesepian saat kak Nessa pergi kerja maupun kuliah nanti sore. Aku buka satu pesan dibawahnya.
Tuan putri.. sudah baikan? Sudah makan? Jangan lupa sholat minum obat jugga ya? :* nanti aku kesana bawain hadiah kesembuhan kamu sayang :*
Form: My Prince ‘Vino
17/06/2012 11:38:12
Vino selalu mudah bikin aku tenang J. Aku pun segera mengambil air wudhu dan segera sholat dhuhur. Dalam do’aku selalu ada nama mama, papa, kak Nessa, Rena, dan pastinya Vino. Mereka adalah orang yang paling aku sayang saat ini. Akupun turun ke dapur mengambil makan dan ku bawa ke ruang tengah aku makan sambil menonton TV.  Saat itu ada FTV dan saat itu ada adegan seorang cowok memberikan kado untuk ceweknya dan mengucapkan kata terimakasih. Saat itu juga aku berfikir untuk berterima kasih pada Rena dan Vino tidak hanya dengan sekedar ucapan ‘Terima Kasih’. *to be a continue*

0 komentar:

Posting Komentar

Pink Transparent Star