Kak Nessa tetap terus memberi kabar
pada mama dan papa di Malaysia tentang keadaanku. Akhirnya mama memutuskan
untuk pulang. Dan hari ini juga mama dan papa pulang, papa hanya tertegun
milpat tangannya di dada melihat keadaanku dengan mata yang terlihat begitu
sedih. Mama terus saja menangis dan menciumiku, memelukku dan berkali-kali
mengucapkan kata maaf. “maafin mama sayang, maafin mama.. mama terlalu sibuk
dengan dunia mama sendiri sampek gak bisa ngurusin anak sendiri.. mama
bener-bener keterlaluan, semenjak eyang meninggal mama gak pernah bisa berpikir
sehat.. mama merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan eyang, waktu itu
mama dan papa tidak punya cukup uang untuk mengobati eyang dan periksa ke
dokter, hingga eyang meninggal, mama merasa bersalah banget.. mama pengen cari
uang banyak sukses hidup sama papa, dan gak akan terjadi lagi hal yang sama..
tapi mama salah, mama gak pernah memperhatiin kamu sayang jadi kayak gini, kak
Nessa juga gak mungkin bisa mengurus kamu seutuhnya kak Nessa juga kuliah dan
bekerja punya kesibukan sendiri mama bikin kamu hidup sendiri, dengan umur yang
masih sangat muda.. maafin mama sayang” mama terus menangis dan memeluk tubuh
kurus keringku dan berulang kali menciumi pipi dan keningku. Aku memandang papa
yang berada di depanku. Aku memandang lagi kea rah mama “ini bukan salah mama
kok, lagian kalo mama dan papa gak sibuk kerja kayak sekarang aku dan kak Nessa
jugga bakal gak bisa hidup, gak mungkin bisa sekolah tinggi kayak sekarang”
ucapku menenangkan mama dan papa. “apa papa gak pengen meluk sasha? Sasha
kangen banget sama papa..” ucapku yang masih terdengar lemah, mama melepaskan
pelukanku dan membetulkan lengan bajuku yang melorot memperlihatkan pundaku
yang kurus karena mendadak piyama piyamaku menjadi kebesaran. Papa
menghampiriku dengan tanpa sepatah katapun, matanya merah dan dia memelukku
dengan lembut. “maafin papa ya sayang, princess papa jadi seperti ini.. tetap
cantik, namun terlihat jaaauuhh lebih kurus” kali ini papa meneteskan air
matanya. Baru kali ini aku melihat wajah tampan papah berlinangan air mata,
baru kusadari kedua superhero-ku ini sudah mulai memunculkan guratan
guratan halus di dahi dan sekitar matanya mereka semakin tua. Sangat mustahil
seorang pria bertubuh tinggi besar dengan postur tegap dan gagah ini menangis
hanya karena aku. Sasha..
Seketika rasa marahku pada papa
dan mama luntur begitu saja, aku menjadi tenang setelah mendapat pelukan dari
mereka. Tiba-tiba lagu CANON terdengar , HP papa berdering cukup kencang
membuat seisi kamar inapku tertuju pada papa. “oh, I’m so sorry Mister.. I’m in
Indonesia know, my daughter was sick.. maybe tomorrow I’ll go to Singapura with
my wife, ok.. I’m so sorry mister, ok.. ok.. sure.. thankyou..” tutt tutt. Papa
mengakhiri panggilannya. Aku begitu sedih mendengar ucapan papa barusan. Besok
papa dan mama akan pergi meninggalkanku lagi? Mereka akan pergi ke singapura?
“Nessa..” panggil mama, kak Nessa pun mendekati mama. “Papa dan Mama berencana
membawa sasha ke singapura, mama pingin kamu ikut.. ambil cuti kerjamu dan
kuliahmu mama ijinkan.. mama dan papa sangat butuh bantuanmu. 2 bulan saja,
mama takut mama dan papa terlalu sibuk dengan kerjaan dan mungkin sasha akan
kesepian di sana..” ucap mama menjelaskan seraya membelai rambut panjang kak
Nessa yang tergerai rapi. “aku ? berobat ke Singapura??” ucapku terbelalak,
“iya sayang, disana penanganannya lebih baik dan cepat, papa dan mama pingin
kamu cepat sembuh, agar tidak menderita gini..” ucap papa yang masih berada di
dekatku. “tapi Rena??” ucapku masih saja memikirkan sahabat setiaku itu. “Rena
sudah mama kabarin sayang, kata Rena apapun yang terbaik buat kamu dia rela
lakuin..” ucap mama tersenyum lembut.
Keesokannya kitapun terbang ke
Singapura, dengan infus yang masih tertancap di tanganku. Tubuhku masih begitu
lemas sehingga papa harus menggendongku saat aku naik di kursi roda. Di Sini
sangat berbeda jauh dengan Indonesa, orangnya begitu cekatan. Aku menjalani
pengobatan beberapa terapi dalam 2 bulan ini, dan alhasil aku semakin membaik.
Tubuhku mulai lebih segar dan berangsur mulai kembali seperti semua, perutku
sudah bisa kemasukan makanan dan aku tak pernah memuntahkkaannya. Namun tetap
saja terkadang perutku terasa begitu perih. 2 bulan lebih seminggu aku sudah
sembuh dan aku boleh pulang. Minggu kedua aku habiskan waktuku di apartement
mama dan papa karena mama masih khawatir dengan keadaanku. Pada hari Minggu aku
dan kak Nessa terbang ke Indonesia dengan senang hati, kak Nessa pun melakukan
kegiatannya rutin, namun untuk seminggu ini aku masih harus istirahat di rumah.
Untuk seminggu ini di rumah terasa sangat membosankan, hal itu aku manfaatkan
untuk mengejar pelajaran-pelajaran sekolahku yang benar-benar tertinggal jauh.
Drrtt.. handphoneku bergetar, ada
2 pesan masuk.
Shaa..
nanti aku ke rumah mu yaa ^^ jangan kemana-mana.. okee?
Form: Rena
17/06/2012 11:39:28
Form: Rena
17/06/2012 11:39:28
“hembh, ternyata rena…” ucapku pelan aku kira kak Nessa,
karena aku benar-benar kesepian saat kak Nessa pergi kerja maupun kuliah nanti
sore. Aku buka satu pesan dibawahnya.
Tuan
putri.. sudah baikan? Sudah makan? Jangan lupa sholat minum obat jugga ya? :*
nanti aku kesana bawain hadiah kesembuhan kamu sayang :*
Form: My Prince ‘Vino
17/06/2012 11:38:12
Form: My Prince ‘Vino
17/06/2012 11:38:12
Vino selalu mudah bikin aku
tenang J.
Aku pun segera mengambil air wudhu dan segera sholat dhuhur. Dalam do’aku
selalu ada nama mama, papa, kak Nessa, Rena, dan pastinya Vino. Mereka adalah
orang yang paling aku sayang saat ini. Akupun turun ke dapur mengambil makan
dan ku bawa ke ruang tengah aku makan sambil menonton TV. Saat itu ada FTV dan saat itu ada adegan
seorang cowok memberikan kado untuk ceweknya dan mengucapkan kata terimakasih.
Saat itu juga aku berfikir untuk berterima kasih pada Rena dan Vino tidak hanya
dengan sekedar ucapan ‘Terima Kasih’. *to be a continue*

0 komentar:
Posting Komentar