Aku membuka mataku, aku memandang langit-langit kamar. Rasanya kepalaku
benar-benar pusing. “Sudah bangun sha?”
aku menoleh. “kakak?” ucapku setelah melihat kak Nessa berada di
sampingku, “kaget ya? Semalem kamu pingsan lagi, kakak yang angkat kamu ke atas
kasur, kamu berat banget sih sha.. haha” ucap kak Nessa sambil menyodorkan
segelas susu hangat. “aku pingsan lagi?” tanyaku setelah meneguk habis susu
itu. “iya.. dengan mata sembab gitu, kenapa lagi sha?” ucap kak Nessa. “enggak
papah kok kak, cuman gak kuat nahan sakit ajah” jawabku berusaha menutupi.
“kakak tau kamu bohong, mungkin sekarang kamu belum mau cerita sama kakak.
Kakak bisa ngerti kok, kakak cuman pingin kamu tau, sesibuk apapun kakak, kakak
selalu luangin waktu buat dengerin cerita Sasha..” ucap kak Nessa sambil
tersenyum seraya menyodorkan handuk lembut padaku. “sana mandi, kakak sudah
siapin air hangatnya. Dua jam lagi tante Rosa ke sini, kakak harus ke luar kota
sama atasan kakak.” Ucapnya lagi sambil merapihkan tempat tidurku, melihatku
duduk di tepi ranjang kakak menarik tanganku dan membantuku duduk di kursi rias
di sebelah ranjangku. Papah adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan tante
Rosa satu-satunya adik perempuannya. “loh, kakak nggak kuliah?” tanyaku sambil
memasang shower cap di atas kepalaku. “kuliah kakak libur sha, kakak ke bawah
dulu ya” ucapnya sambil membawa gelas susu, dan beranjak meninggalkanku. “oh
iya, tadi Ebbi telfon, dapet salam tuh kamu.” Ucap kak Nessa sambil tersenyum,
kak Nessa menutup pintu kamarku sebelum aku membuka mulut. “Ebbi?”
ooOoo
Kepalaku benar-benar terasa berat, seolah puluhan buku novel yang aku punya
kini bertumpuk di atas kepalaku. Aku berjalan terhuyung, lalu menghempaskan
tubuhku ke ranjang sebelum pingsan. Aku
memejamkan mataku sejenak, aku mengambil nafas dalam-dalam. Setelah terasa
lebih enakan aku bangun dan menuju ruang tamu. “Sashaa.. apa kabar sayang? Lemes
gitu?” ucap tante Rosa seraya memeluk dan mencium kedua pipiku. “agak nggak
enak badan tan..” ucapku dengan lemas setelah mencium tangannya. “mana om
Bimo?” ucapku melihat ke arah pintu depan. “tante sendirian sayang, om Bimo
kemaren berangkat ke Surabaya, berhubung tante dapet kabar kalo Nessa mau ke
luar kota, ya tante main-main aja kesini, tante kesepian Sha berdua sama Dii
terus” ucap tante Rosa panjang lebar. “Thathaa..” aku menoleh, kak Nessa
menggendong gadis tembem berumur 3 tahun itu, Dii memang masih cadal, dia
memanggilku thathaa karna dia belum bisa menyebut huruf S. “Diianaaa...” ucapku
gemas dan langsung menggendongnya, Dii hanya diam sambil memelukku. Bau bedak
bayi itu benar-benar menenangkan hati. “aku berangkat ya, daa Sasha, daa Tante,
bye Dii..” ucap kak Nessa setelah mencium tangan Tante Rosa dan mencubit pipi
Dii. Dii melayangkan kiss bye lalu
memainkan rambutku yang aku kuncir. Aku menoleh ke belakang, melihat handphone
kak Nessa yang ketinggalan, aku menoleh lagi ke arah kak Nessa “kakak
handphone-nya tuh..” ucapku. Dii terkikik geli. “Thathaa.. hihihihi lambut
Thathaa.. geli gelii, Dii geli Thatha” ucapnya sambil tetap tertawa. Ternyata
saat aku menoleh rambutku berkibas-kibas mengenai wajahnya. Aku menidurkannya
di sofa lalu menggelitik wajahnya dengan ikatan rambutkku seperti melukis
dengan kuas. Dii tetap tertawa sambil menggosok-gosok hidungnya yang gatal.
Hatchiii.. Dia pun bersin, Aku dan Tante Rosa tertawa terbahak-bahak melihat
tingkah lucu Dii.
ooOoo
Aku memandangi handphone, terngiang-ngiang suara Vino semalam. Tante Rosa
sendang di dapur masak untuk makan siang, aku menarik nafas panjang.
“Thathaa..” ucap Dii yang tiba-tiba datang membawa boneka kesayangan-nya lalu
menyandarkan dagunya di lututku, dia menatapku sedih dengan mata
berbinar-binar. “aku mengangkat tubuhnya dan ku duduk-kan di sebelahku. “Dii
gak ada temen?” tanyaku, Dii mengangguk sedih. Aku membawanya ke depan TV dan
aku memperlihatkan Film-film kartun koleksi-ku. Dia menunjuk film Rapunzel. Dia
pun menonton dengan duduk manis, aku menemaninya. Setelah film itu selesai,
Tante Rosa mengajak kita makan siang. Tapi Dii bersikeras menolaknya, Dii tidak
mau makan. Tante Rosa tetap memaksa, tapi Dii malah lari kesana kemari. Tante
Rosa kehabisan kesabaran, dia pun memarahi Dii. Dii bersandar di pojokan tembok
ruang makan dengan wajah sedih, “mama Gothel jahat” ucapnya. Aku dan tante Rosa
tertawa, dia terlalu sering menonton film Rapunzel sepertinya. “Kalo Dii gak
mau makan, mama bakal jadi mama Ghotel beneran nih..” ucap tante Rosa sambil
melipat tangannya di depan dada. Akhirnya Dii menyerah, dia akhirnya makan
meskipun sambil di buang-buang. Aku menyantap makan siangku dengan lahap. “Oh,
iya Sha.. gimana? Kamu masih rutin Kemo?” ucap tante membuatku berhenti
mengunyah makanan yang ada di mulutku. “Kemo apa tante?” tanyaku heran,
bukannya Kemo itu terapi untuk orang yang mengidap penyakit kronis? Seketika
perutku mual dan kepalaku berputar. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan
semua makan siangku. ~lagi “aku mulai benci ini..”.
*to be a continue*

0 komentar:
Posting Komentar