Aku membuka diaryku, dan mulai menggoreskan pena.
Desember 16th Dear Diary,
“Seandainya
kehidupanku seindah bintang dilangit, tak akan ada sepi tak akan ada luka.
Menari indah di atas sang gelap malam, tak peduli apapun yang terjadi di bawah sana.
Tetap tersenyum berkelip riang, tanpa harapan dan angan-angan palsu yang membuatku jatuh. Seandainya aku menjadi bintang, tak akkan ku biarkan seorangpun menyakiti hatiku. Seandainya”
Menari indah di atas sang gelap malam, tak peduli apapun yang terjadi di bawah sana.
Tetap tersenyum berkelip riang, tanpa harapan dan angan-angan palsu yang membuatku jatuh. Seandainya aku menjadi bintang, tak akkan ku biarkan seorangpun menyakiti hatiku. Seandainya”
“sasha..?” ucap seseorang dari belakangku. Aku
segera menutup diaryku, dan aku menoleh. “Kakak..” ucapku seraya mencium tangan
kak Nessa. “sudah tadi?” tanyaku, “barusan kok..” jawabnya. “ lagi liat bintang
sha?” lanjut kak Nessa, dia duduk di sebelahku dan memandang ke langit. “iya,
sambil nulis diary... hehe seperti biasa..” ucapku sambil tersenyum seraya
menunjukkan buku diaryku. “bagus banget ya?” ucap kak Nessa sambil tetap
memandang langit. “aku selalu
menyukai apapun tentang bintang” jawabku sambil tetap mengagumi indahnya malam.
“kenapa gitu?” tanya kak Nessa namun tak memalingkan pandangan matanya. “mereka
cantik, mereka selalu bikin aku tenang, mereka gak pernah bosen temenin aku,
dan yang paling penting mereka gak pernah bikin aku nangis kayak yang lain kak”
jawabku sambil memandangi diaryku. Kak Nessa hanya tertawa ringan. “di diary
itu.. apa yg kamu tulis?” tanya kak Nesa setelah memandangi diaryku. “Semuanya” :) jawab-ku. “Semuanya?” ulang kak Nessa “yap
apapun, bahkan hal sekecil apapun” ucapku. Kak Nesa hanya tersenyum dan menatap
langit. Entah benar atau tidak, kak Nessa membuatku merasa ada sesuatu yang dia
sembunyikan .
ooOoo
Aku menatap langit-langit kamar sambil sesekali meremas-remas perutku
seolah dengan begitu rasa sakitku berkurang. Aku memandang fotoku dengan Vino
yang tersusun rapi di pigura yang menempel di dinding kamarku. Entah kenapa
tiba-tiba aku benar-benar merindukannya. Aku ingat saat dia menemaniku, saat
dia selalu ada disisiku saat aku sakit. Aku benar-benar merindukannya. Air mata
hangat mulai menetes di pipiku, berkali-kali aku mengusapnya tapi percuma.
Drrrt drrtt.. aku menatap handphone-ku yang bergetar di atas meja rias, awalnya
ingin ku biarkan, tapi handphone itu terus bergetar. Mungkin jika itu sms aku
akan membiarkannya, aku berdiri dan segera mengambilnya. Seperti biasa aku
menatap layar handphone sesaat sebelum menerima telfon. “hah? Vino?!” ucapku
tak menyangka, bahkan air mata yang jatuh dipipiku karena Vino belum kering.
“ha..haloo?” salamku
dengan suara dan tangan yang bergetar
“mm, ya halo sha?” ucapnya juga sedikit gugup
“ada apa no?” ucapku sambil mengusap air mataku yang masih terus menetes
“mm, kamu nggak papa kan?” tanyanya, perntanyaan itu sungguh membuatku hanya diam,
“ini Vino bukan sih?” ucapku masih tak percaya
“iya lah, kenapa sih? Kayak di telfon setan aja, kamu gak papah kan?” ucapnya meyakinkan
“mm, nggak papah kok, tumben telfon? Ada apa?” jawab sekaligus tanyaku
“nggak papah sih, tadinya mau telfon Alda, tapi salah sambung ke kamu, yaudah deh sekalian aja, lagian aku juga jarang telfon kamu kan...” ucapnya panjang lebar
“...”
“halo, shaa.. kok diem? Kamu nggak papah kan?” ucapnya lagi, setelah sadar aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“mm, ya halo sha?” ucapnya juga sedikit gugup
“ada apa no?” ucapku sambil mengusap air mataku yang masih terus menetes
“mm, kamu nggak papa kan?” tanyanya, perntanyaan itu sungguh membuatku hanya diam,
“ini Vino bukan sih?” ucapku masih tak percaya
“iya lah, kenapa sih? Kayak di telfon setan aja, kamu gak papah kan?” ucapnya meyakinkan
“mm, nggak papah kok, tumben telfon? Ada apa?” jawab sekaligus tanyaku
“nggak papah sih, tadinya mau telfon Alda, tapi salah sambung ke kamu, yaudah deh sekalian aja, lagian aku juga jarang telfon kamu kan...” ucapnya panjang lebar
“...”
“halo, shaa.. kok diem? Kamu nggak papah kan?” ucapnya lagi, setelah sadar aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Tanpa menjawab aku langsung memematikan telfonnya. Aku nggak habis pikir,
sebenernya kita itu siapa sih? Kita itu belum putus kan, gimana bisa Vino
bener-bener berubah kayak gini? Seolah kita bukan siapa-siapa lagi. Selama ini
Vino selalu jaga perasaanku, Vino gak pernah bisa lihat aku sakit hati
gara-gara dia. Yang aku tau, dia selalu buat aku bahagia. “arrgghh” aku
mengerang kesakitan, aku meremas perutku sambil menangis dan memeluk
handphone-ku.

0 komentar:
Posting Komentar