Aku membanting HP ku keras-keras. Kali ini aku bener-bener kecewa! Aku pengen
marah sama Vino. Tapi tiap aku ada di depannya, aku seperti bukan Sasha. aku
bener-bener gak berani macem-macem sama dia, apa lagi untuk marah-marahin dia.
Aku gak berkutik di depannya.
“maaf ren, aku bener-bener kebawa emosi.. maaf” ucapku sambil duduk tersimpuh di
lantai. “sudah sha, lupain aja Vino! Kenapa sih susah banget ngelepasin dia?
dia udah keterlaluan sha!” ucap Rena kebawa emosi. “aku gak bisa ren, sering
aku coba lupain dia.. tapi waktu aku inget dulu dulu, sakit rasanya.. kangen
banget ren, kangen banget sama dia.. dia yang dulu.. pastinya” ucapku sambil
sedikit melepaskan senyum saat menginggat masa-masa itu. “Apa yang paling kamu
kangenin dari dia sih sha?!” tanya Rena. “Aroma tubuhnya, waktu aku peluk dia.
wanginya kecium sebentar, tapi bahagianya kebawa sampe berhari-hari . bahkan sampek
sekarang” jawabku sambil tersenyum. “gila ya!” ucap Rena seraya
menggeleng-gelengkan kepala lalu meninggalkanku. Aku melihat Ebbi, dia tertawa
dan menepuk-nepuk pundakku. Aku mengangkat kedua bahuku. “apa yang salah?”
ucapku polos.
ooOoo
Bell sekolah berdering,
waktunya pulang. Aku segera berjalan ke depan gerbang dengan Rena. Ebbi dan
Dimas mengeluarkan motornya sementara aku dan Rena menunggu mereka, aku melihat
sekitar parkiran. Rena sibuk dengan beberapa ujung rambutnya yang bercabang.
“Itu kayak Vino sama Alda deh ren?” ucapku seraya meremas lengan Rena. “apaan
sih shaa.. sakit,” ucap Rena lalu melihat kearah yang aku tunjukkan. “bicara
apa mereka? Kayaknya serius banget?” ucap Rena. Aku hanya diam memperhatikan,
sepertinya Alda melakukan suatu kesalahan sampai membuat Vino kesal. “kayaknya
mereka lagi tengkar?” ucapku. “haha baguslah!” ucap Rena kesal, tapi setelah
itu Alda pulang di antar Vino. Apa itu tengkar?. “yuk sha..” Ebbi membuat aku
dan Rena tersentak. “loh? Dimas mana?” tanya Rena setelah celingukan dan tak
terlihat batang hidung Dimas di balik badan tegap Ebbi. “tauk, kayaknya tadi
dia mau ketemu temennya bentar gitu, “hei..” sahut Dimas. “tuh dia..” ucapku.
“darimana sih?” tanya rena, “dari depan, yuk..” jawab Dimas singkat, “Dimas ada
masalah?” bisikku pada Rena. Rena mengangkat bahunya lalu naik ke motor Dimas.
Hari ini benar-benar aneh.
ooOoo
Aku menghempaskan tubuhku
di ranjang empuk-ku. Aku melihat tanganku, aku mengingat-ingat kejadian di
sekolah tadi. Aku masih gak nyangka Vino bisa kasar seperti itu. Selama ini
cara bicara kita enggak seperti itu. Apa yang salah? Sepertinya Vino benar-benar
mencintai Alda. Dia bener-bener gak mau ada orang yang nyakitin Alda. Ya, aku
contohnya. Siapa yang enggak marah lihat orang yang disayanginnya ditampar sama
orang yang cuma bikin sakit hati? :” Haaah ya sudahlah. Dengan malas ku sahut
handuk dan aku pun mandi. Selesai mandi aku membuka handphoneku, ada satu pesan.
From: Bebii <3
Tadi kepala kamu luka? Kok di hansaplast gitu? kenapa?
Tadi kepala kamu luka? Kok di hansaplast gitu? kenapa?
Mimpi
apa aku semalem? Vino khawatir sama kamu sha? Yang bener? Ato jangan-jangan ini
mimpi?. Drrtt Drrrtt
From: Bebii <3
Kok gak di bales?? Jangan bikin aku khawatir.
Oke,
ini bukan mimpi! Aku balas sms-nya SEKARANG!
To: Bebii <3
Enggak papah kok, tadi waktu kekancingan di toilet cari sinyal buat hubungin Rena jatuh terus kena pegangan pintu, bocor deh :(
1
menit, 2 menit, 3menit...
30 menit, dan akhirnya 3 jam sudah lewat tapi belum ada balesan. Lagi lagi dia bikin aku bingung. Aku duduk di taman belakang membawa handphone dan buku diary-ku. Hari ini cerah, bintangnya benar-benar banyak. Aku menerawang jauh ke atas langit, begitu indah. Rasanya malam ini begitu sepi, tapi setelah aku melihat bintang-bintang yang berkelip indah itu. Seolah mereka menemaniku, seolah mereka mengerti rasa sakitku. Seandainya aku menjadi bintang, mungkin senang rasanya. Tak ada beban dan tak pernah merasa sakit hati. Tapi sendainya aku menjadi bintang juga, mungkin aku tak akan pernah merasa bahagia. Bahagia seperti saat aku bertemu Vino, dan memilikinya. *to be a continue*
30 menit, dan akhirnya 3 jam sudah lewat tapi belum ada balesan. Lagi lagi dia bikin aku bingung. Aku duduk di taman belakang membawa handphone dan buku diary-ku. Hari ini cerah, bintangnya benar-benar banyak. Aku menerawang jauh ke atas langit, begitu indah. Rasanya malam ini begitu sepi, tapi setelah aku melihat bintang-bintang yang berkelip indah itu. Seolah mereka menemaniku, seolah mereka mengerti rasa sakitku. Seandainya aku menjadi bintang, mungkin senang rasanya. Tak ada beban dan tak pernah merasa sakit hati. Tapi sendainya aku menjadi bintang juga, mungkin aku tak akan pernah merasa bahagia. Bahagia seperti saat aku bertemu Vino, dan memilikinya. *to be a continue*

4 komentar:
sist ini cerita nyata atau gimana ya..?
Mampir kesini ya, salam kenal Peta Indonesia Karya Anak Negeri
Selalu ditunggu postingan terbarunya jeng...
Keep post.. :)
ini full karanganku :)
boleh boleeh :D
hehe okee :D tengkyuu dukungannya :3
Posting Komentar