Senin, 15 Oktober 2012

★ Part 21


“apa urusannya ikut campur, pakek buka buka sms aku lagi! Itu kan privasi” omelku. “kenapa sih sha?” tanya Rena, “nih baca, tadinya aku sms Vino jelasin gimana tadi ada Ebbi di sini, dia kan gak tau kalo kamu di sini juga. Eeeh, malah yang bales si rok mini itu!” ucapku benar-benar kesal seraya menyodorkan handphoneku. “udah biarin aja sha, tunggu Vino hubungin kamu.. kita gak tau kan kapan Alda kepisah sama Vino?” tutur Rena membuatku tenang. Kayaknya pacar Vino aku deh, kenapa yang selalu lengket sama Vino si Alda itu? Payah banget L.
“oh iya dari pada ngomongin Alda rok mini itu gimana kalo kita ngomongin Dimas? Hehe” ucap Rena polos, “yaelaaaaaah Renaa..” ucapku dan Ebbi serentak. “ciee yang sebentar lagi balikan nih,” ucap Ebbi mendadak membuatku kaget. “ihh apaan sih bi!” ucap Rena malu-malu. “udah gak usah malu-malu Ren, toh kamu seneng kan kalo bakal balik sama Dimas? Ceileeeh” timpukku membuat Rena semakin merona. “benernya….” Rena berhenti melanjutkan kata-katanya, sepertinya dia sengaja membuatku dan Ebbi penasaran. “apaan?” tanyaku yang benar-benar penasaran. “umm, kasi tau nggak yaa??” ucap Rena sambil cekikikan padaku dan Ebbi. Ebbi hanya memandangi Rena dengan tampang yang super duper penasaran. “benernya.. aku .. sudah balik sama Dimas! Aaaa!!” teriak Rena membuatku dan Ebbi shock setengah mati. “yang bener?!!” ucapku. “Pantes aja akhir2 ini Dimas slalu tanyain kamu Ren” sahut Ebbi, “ya kan aku balik sama dy juga gara-gara kamu bi, thanks ya Ebbi” ucap Rena seraya mencubit pipi Ebbi. Ebbi hanya tersenyum membuat matanya benar-benar terlihat sipit. Melihatnya aku benar-benar merindukan Vino :( . Tapi aku benar-benar beruntung punya Rena dan Ebbi, mereka selalu tau gimana caranya bikin aku tersenyum lagi. J
ooOoo
“halo?”
“ya halo?”
“inii.. bener  nomor Sasha kan?”
“iya bener kok, eh ini Vino? Ini Ebby no, Sasha.nya lagi ke belakang tuh, tauk ngapain. HP nya ditinggalin di ruang tamu nih.”
“…”
“haloo?”
“Siapa bi?” tanya Rena. “Vino kayaknya,” ucap Ebbi seraya memandangin handphone-ku.  “terus dia bilang apa?” tanya Rena lagi. “tauk, langsung di matiin tuh, gak sopan banget” cibir Ebbi. “Jelous tuh dia bii, haha” jawab Rena. “yee kamu Ren, ada orang jelous malah diketawain, gak enak tau sama Sasha!”, “Heiii,” sahutku. “Tadi Vino telpon sha, aku angkat belum selesai ngomong udah di matiin. Gak sopan banget” jelas Ebbi. “oh yaa??” tanpa pikir panjang aku langsung menyambar handphone-ku dari tangan Ebbi. Aku mencari nomor Vino dan aku menghubunginya. Tuuuut tuuut tuuut….
“halooo??”
“….”
“ada apa shaa? Vino-nya lagi tidur nih, aku di kamarnya di tinggalin tidur, yaahh jadi ngerjain tugasnya sendiri deh, nyebelin emang tuh anak…….”
Aku menutup telpone dengan begitu saja. Bruk. Aku menghempaskan tubuhku di sofa. “kenapa lagi sha?” tanya Ebbi, “Alda yang angkat, katanya Vino ketiduran. Rok mini itu lagi di kamarnya Vino bii” tanpa aku sadari air mataku mulai menetes di pipiku. “jangan negative thinking dulu sha, pasti dia emang gak sengaja” ucap Rena memelukku seraya mengusap air mataku. Aku nggak abis pikir sama Vino, apapun udah aku kasih ke dia. Apa yang kurang dari semua yang aku kasih? Pikiranku melayang-layang mencari jawabnya. Ebbi menyahut handphone di tanganku, dan menelpon ke nomor Vino.
“aku Ebbi! Mana Vino! Aku ma ngomong sama dia!”
“ya aku Vino, masalah mu apa bi? Biasa aja kali?!”
“kata Alda kamu tidur? Kamu sengaja bikin Sasha sakit hati?”
“kalo iya masalah buat kamu bi?!”
“kamu emang gak punya perasaan ya no?! kamu seneng liat sasha nangis?! Cuma gara-gara ALDA?!!!!”
“eh! Ya gak usah nyolot gitu dong! Ini masalahku sama Sasha! Jadi kamu gak perlu ikut campur!”
“aku berhak ikut campur! Karna aku punya perasaan! Aku gak suka liat sasha nangis! Gak kayak KAMU!”
“mending kamu sekarang ngomong dimana kamu sekarang! Kita selesein secara jantan!”
“oke! Aku di rumah Sasha!”
“…”
Air mataku semakin deras mendengar ucapan Ebbi, aku gak nyangka Ebbi bisa semarah itu, Rena tetap memelukku dengan tubuhnya yang gemetaran. “udah bi, jangan pakek emosi, pliss” pinta Rena yang benar-benar takut melihat orang bertengkar. Ebbi hanya diam sambil meremas-remas, entah apa yang dia remas di tangannya yang kosong. Drrtt drrrttt… Rena menerima sms.
From: Dimas <3
Aku sudah sampai di terminal sayang, jadi jemput enggak nih? J Miss u darl :*
“Oh… my… GOD… !” sentak Rena. “kenapa ren?” tanyaku pelan. “Aku lupa , aku harus jemput Dimas di terminal..” ucapnya sambil menatap kosong ke arah layar handphonenya. “yaudah kamu jemput dulu aja, toh terminal gak jauh dari sini. aku disini nunggu Vino sama…..” BRAAAK!! Kepalan tangan Vino menghantam telak di muka Ebbi. Ebbi terjatuh dan menendang Vino hingga terpuruk. “Vino!!! Ebbi!!” teriakku dan Rena. Aku sibuk melerai mereka sedangkan Rena berusaha menghubungi Dimas untuk segera datang. “Sudah! Sudah! Kok jadi tengkar gini sih!!” ucap Rena setelah selesai menghubungi Dimas. “Vino! Udah!” aku berusaha menahan Vino dengan memeluknya meskipun dia begitu kuat berusaha untuk melepaskan pelukanku. Rena berdiri di antara Ebbi dan Vino sambil merentangkan tangannya tapi dengan mudahnya kita berdua terjatuh karna dorongan mereka. BRAK! Ebbi memukul Vino, dan Vino mimisan!! Vino segera berdiri dan menghampiri Ebbi, rupanya dia akan membalas pukulan Ebbi, tapi Aku segera menariknya. Aku dan Rena hanya menangis, kita sangat takut melihat mereka seperti ini. Seketika mereka berubah menjadi sosok yang gak kita kenal. “Heh! Kalo emang mau ngerebut Sasha bilang aja bi!!  Gak usah MUNAFIK!!” ucap Vino seraya melepas genggamanku di lengannya dengan keras. “eh! Lo itu yang munafik! Ngakunya sayang sama Sasha! Tapi bisanya cuma bikin nangis dia!” sentak Ebbi “ye ! la lo la lo! Sok banget sih! Haha! Kamu jelous kan selama ini liat aku sama Sasha?! Kelihatan kok dari gaya kampungan.mu itu!!” ucap Vino seraya menuding-nuding kea rah muka Ebbi. Ebbi mengayunkan pukulannya sekali lagi dan Rena segera mendorongnya. “SUDAH!!! AKU GAK KUAT LIAT KALIAN! KALIAN SAMA AJA ! KALIAN KAYAK ANAK KECIL! GAK BISA BERSIKAP DEWASA!” aku berteriak sekuat kuatnya sambil menangis. “ini semua gara-gara Ebbi sha!!” jawab Vino sambil menuding kea rah Ebbi, Ebbi sudah siap mengayunkan tangannya lagi, tapi dengan cepat tangannya tertahan. “DIMAS?” ucap Rena. “ini yang namanya sahabatku?” ucap Dimas seraya melepas tangan Ebbi. Dimas melihat tajam kea rah Vino dan Ebbi, “aku kira sahabatku udah bisa bersikap dewasa, ternyata… haha..”. “Dimas, sorry.. tapi bukan gitu maksud aku Dim” Ebbi mencoba menjelaskan apa yang terjadi. “Ebbi jelous liat aku jalan sama Sasha” jawab Vino dengan cepat. “bukan gitu no!” jawab Ebbi, “halah! Gak usah ngeles deh bi! Dia itu emang jelous liat aku sama Sasha dim, dia mikir yang aneh-aneh tentang aku sama Alda” jelas Vino. “Alda? Alda siapa? Siapa itu?” jawab sekaligus tanya Dimas. “temen sekelasnya Vino yang kemana-mana selalu sama Vino, lengket banget sama Vino. Bahkan Vino bisa lupa sama Sasha kalo lagi sama Alda!” sentak Rena yang mungkin juga kesal karena ulah Vino. Aku kembali ke mereka setelah mengambil kotak P3K. Aku membersihkan darah yang keluar dari hidung Vino dan mengompres memar yang ada di dahinya. “Apanya? yang ada Ebbi yang selalu ngintilin Sasha kemana-mana! Awwww!! Pelan-pelan dong shaa!” sangkal Vino, yang lalu tertahan karena aku yang mengobati lukanya terlalu kasar. Memang sebenarnya aku sengaja melakukan itu, masih sakit hati rasanya mendengar ucapan Alda di telepon tadi. “harusnya kamu ngerti no..” ucapku sambil menangis. Serentak mereka melihat ke arahku. “Ebbi cuman deket kita gara-gara dia selalu kasih informasi tentang Dimas ke Rena, sampek akhirnya mereka jadian, sedangkan kamu? Apasih yang kamu lakuin di kamar sama Alda berdua di kamar? Sedangkan aku pacar kamu sama sekali gak pernah kamu ajakin ke rumah kamu no?” ucapku sambil tetap mengobati Vino. “maaf..” ucap Vino pelan, mereka semua terdiam sambil mencerna apa sebenarnya yang terjadi di sini. Rena masih tetap menangis sambil mengompres memar2 di muka Ebbi, memang gak ada darah yang keluar tapi memar di wajah dan lengan Ebbi cukup parah. “Kalian bisa selesein masalah ini baik-baik kan? Kalian selesein dengan cara yang dewasa?” ucap Dimas bijak. “nanti kita bisa ngomong berdua kan bii?”  tanya Vino padaku. Aku hanya mengangguk sambil mengusap air mataku. Vino ikut mengusap air mataku. Kitapun mulai tersenyum meski masih dalam suasana kaku.  *to be a continue

0 komentar:

Posting Komentar

Pink Transparent Star